Starbucks Diboikot, Benarkah?

02-07-2017 01:07:29 By Addo Richard
img

JakartaVenue | Tak bisa dipungkiri, brand 'Starbucks' boleh dibilang pioner industri Coffee Shop yang cukup populer asal negeri Paman Sam, Amerika. Selain itu, Starbucks dikenal sebagai perusahaan kedai kopi terbesar di dunia,dengan 20.336 kedai di 61 negara, termasuk 13.123 di Amerika Serikat, 1.299 di Kanada, 977 di Jepang, 793 di Britania Raya, 732 di Cina, 473 di Korea Selatan, 363 di Meksiko, 282 di Taiwan, 204 di Filipina, dan 164 di Thailand.

Media massa global 3 hari belakangan ramai dengan pemberitaan gerakan boikot terhadap perusahaan kopi berlogo wanita duyung berekor kembar ini terkait pernyataan CEO Starbucks, Howard Mark Schultz yang mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Hal tersebut dikatakan Howard ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks Schultz secara tegas mempersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan sejenis untuk hengkang dari Starbucks.

Hal tersebut tentu menuai reaksi masyarakat diseluruh dunia, di Indonesia sendiri Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta pemerintah mencabut izin operasional Starbucks di Indonesia. Alasannya, CEO Starbucks, Howard Mark Schultz mendukung kesetaraan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). 

Dikonfirmasi pihak PT MAP Boga Adiperkasa Tbk selaku pemegang lisensi Starbukcs di Indonesia, sejauh ini belum menyampaikan sikap terkait hal tersebut namun dikutip dari Republika, Marketing Communications dan CSR Manager, PT Sari Coffee Indonesia, selaku pemegang lisensi Starbucks Indonesia Yuti Resani mengatakan pihaknya tetap menghargai keragaman dan kesetaraan dan berkomitmen sejalan dengan kebijakan manajemen Starbucks.