Bedhaya Ketawang, Seni Tradisional Kental Aura Mistis

29-06-2017 09:06:31 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Seni tari Nusantara Bedhaya Ketawang yang berasal dari Surakarta ini merupakan sebuah kesenian tradisional yang istimewa. Berbentuk tarian dengan fungsi bukan hanya untuk hiburan semata, melainkan tarian kebesaran yang hanya dipertunjukan untuk sebuah penobatan serta peringatan kenaikan tahta raja.

Kesenian ini hanya ditampilkan di Kesunanan Surakarta Solo dan bertempat di Sasana Sewaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sejarah terciptanya tarian ini sangat erat hubungannya dengan Kerajaan Mataram Kuno dan Ratu Pantai Selatan yang terkenal dalam masyarakat Jawa.

Menurut istilah, Bedhaya Ketawang memiliki arti bedhaya ‘pengantin’ dan ketawang ‘langit’ atau bisa juga berarti ‘berbagai’ hal yang luas. Secara keseluruhan dapat disimpulkan sebagai ‘tarian wanita untuk istana langit’.

Bedhaya Ketawang menceritakan hubungan asmara Kanjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram. Semuanya diwujudkan dalam gerak-gerik tangan serta seluruh bagian tubuh, cara memegang sondher dan lain sebagainya. Semua kata-kata yang tercantum dalam tembang (lagu) yang mengiringi tarian, menunjukkan gambaran curahan asmara Kangjeng Ratu Kidul kepada sang raja.

Kemistisan tari yang dimainkan hanya sekali dalam setahun itu sangatlah kental terasa, karena untuk mempersembahkan tarian Bedhaya Ketawang haruslah dengan menggunakan ritual-ritual dan konon katanya dalam tarian tersebut juga turut serta Ratu Pantai Selatan.

Tari Bedhaya Ketawang ditampilkan oleh Sembilan orang penari perempuan. Sembilan disini sebagai perlambang dari Sembilan arah mata angina yang dikuasai Sembilan dewa atau disebut dengan Nawasang. Versi lain menyebutkan sembilan penari adalah lambang dari wali songo.

Nah setiap pertunjukan, Kanjeng Ratu Kidul atau Ratu Pantai Selatan ikut serta sebagai penari kesepuluh. Karena tarian ini sacral, maka setiap penari yang akan tampil haruslah mengikuti beberapa persyaratan sepeti harus seorang gadis suci, tidak sedang haid atau kalaupun sedang haid tetap bisa menari dengan terlebih dahulu meminta izin kepada Ratu Pantai Selatan lewat ritual caos dhahar.

Tidak hanya itu, tetapi setiap penari juga harus suci secara batiniyah dengan cara berpuasa selama beberapa hari menjelang pementasan. Kesucian ini benar-benar sangat diperhatikan, karena konon Kanjeng Ratu Laut Kidul akan datang menghampiri para penari yang gerakannya masih salah pada saat latihan berlangsung. Latihannya pun harus di tempat yang sama dengan pementasan yaitu di Sasana Sewaka Keraton.

Untuk pakaian, para penari didandani dengan pakaian dan riasan menyerupai pengantin. Disebutkan bahwa pakaian pengantin putri terinspirasi dari pakaian benara bedhaya. Dikenakan pula sebuah dodhot bermotif aneka binatang menghadap ke telaga.

Selama pementasan berlangsung, Bedhaya Ketawang diiring dengan musik atau gending yang disebut Gending Ketawang Gedhe yang bernada pelog. Alat musik tradisional yang digunakan adalah yaitu kethuk, kenong, kendhang, gong, dan kemanak. Namun ketika Pada saat mengiringi jalannya penari masuk kembali ke Dalem Ageng Prabasuyasa, instrument ditambah rebab, gender, gambang, dan suling.

Pementasan Bedhaya Ketawang terdiri dari tiga adegan dengan durasi selama satu setengah jam. Adegan pertama menceritakan jatuh cintanya kepada Panembahan Senopati, adegan kedua perkawinan dan terakhir perpisahan.

Awalnya  pementasan Bedhaya Ketawang berlangsung selama dua jam, kemudian pada zaman Pakubuwana X terjadi pengurangan hingga akhirnya menjadi satu setengah jam.

Bagi JV Readers yang ingin menyaksikan pementasan Bedhaya Ketawang ini nampaknya harus benar-benar mengetahui kapan diadakannya dan lagi meskipun dipastikan penampilannya setahun sekali tapi untuk pementasan yang meriah hanya diadakan sekitar delapan tahun sekali.

Selain itu penonton juga wajib mengikuti aturan sacral dari penyelenggara seperti tidak boleh bicara, makan atau minu selama pementasan berlangsung dan harus duduk diam serta tenang memperhatikan pementasan. Diingatkan kembali untuk tidak melanggar aturan tersebut.