Sepenggal Kisah Hikmah dan Berkah Hari Raya Idul Fitri

25-06-2017 01:06:01 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Gema takbir berkumandang menandakan perjuangan di bulan Ramadan tahun ini berakhir dan menyambut datangnya hari raya Idul Fitri 1438 H. Sesaat setelah diumumkan 1 Syawal 1438 H jatuh pada hari Minggu (25/6), seketika pula seluruh umat muslim bertakbir mengagungkan kebesaran Allah SWT.

Berbagai cara mengekspresikan kegembiraan pun tertumpah karena telah berhasil melaluin rangkaian ujian beribadah selama sebulan penuh. Datangnya hari raya selalu mendatangkan hikmah dan berkah. Hal tersebut dapat dirasakan ketika redaksi JakartaVenue ikut berkeliling menikmati suasana malam takbir di ibukota.

Hilir mudik pawai takbir mewarnai jalan-jalan Jakarta. Membawa macam tetabuhan mulai dari bedug yang terbuat dari kulit hingga ada juga yang membawa snare drum. Mereka melantunkan takbir sambil memukul tabuhan sebagai pengiring lantunan keagungan Tuhan.

Di pinggir jalan, banyak pula masyarakat yang mendirikan panggung sederhana yang dihias nuansa Idul fitri dengan dijajarkan bedug dan pemukul pun bersemangat mengiringi gema takbir.

Disaat berkeliling tepatnya saat berada di Jl. KH. Abdullah Syafei, Tebet, Jakarta Selatan, kami menemukan kondisi yang terbilang beda. Masyarakat riuh ramai di sisi jalan hingga kendaraan kami pun melambat. Untuk mengatasi rasa penasaran, kami pun berinisiatif memarkirkan kendaraan di tempat yang aman tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.

Setelah memarkir kendaraan, kami bergegas turun dan ikut membaur dengan masyarakat yang berjalan ke suatu tempat. Tak lama berjalan, akhirmya kami menemukan jawaban dari rasa penasaran kami. Ternyata masyarakat berjalan ramai menuju sebuah pasar malam.

Jelas saja warga sangat antusias, di dalam pasar malam dadakan itu terdapat banyak sekali penjual yang menjajakan barang dagangan untuk kebutuhan hari raya dan juga kebutuhan sehari-hari lainnya, mulai dari baju koko hingga perkakas rumah tangga.

Bukan saja banyaknya barang yang dijual, tetapi harganya pun tergolong sangat murah. Bayangkan saja celana jeans yang bila kita beli di mal atau distro kekinian harganya mencapai Rp 300 ribu keatas, nah di pasar malam ini kita bisa mendapati celana jeans mulai dari Rp 20 ribu.

Bicara kualitas tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan yang ada di mal atau distro tadi. Tapi bagi masyarakat yang terpenting adalah bisa berlebaran dengan pakaian yang rapi dan bersih.

Selain celana jeans, ada lagi ikat pinggang dijual dengan harga miring. "Ayo sabuk import harga damai, kalo hari biasa harganya 85 ribu untuk lebaran hanya 20 ribu" kata salah seorang penjual sambil berteriak guna menarik calon konsumennya.

Lumayan lama kami berada di pasar tersebut, akhirnya naluri wartawan kami pun keluar. Kami menghampiri salah seorang penjual celana jeans bernama Syaiful dan berbincang sedikit dengannya. Kami menanyakan tentang kegiatan mereka, mulai dari sejak jam berapa berdagang hingga bagaimana hasil jualan malam takbiran.

“Saya jualan dari pagi bang, bawa lumayan banyak ada 10 karung celana jeans, lakunya juga lumayan nih malam takbiran. Saya kan biasa jualan bazaar disini setiap hari Sabtu, buat Sabtu ini lumayan banyak bang ya karena bareng malam takbiran. Sekarang jam 11 malam dagangan saya tinggal sekarung juga kurang, kalo soal omset wah saya belum sempet itung bang” tutur Syaiful menjawab pertanyaan kami.

Inilah yang disebut berkah hari raya, bukan hanya penjual yang mendulang keuntungan berlipat, tetapi masyarakat juga mendapat keuntungan dengan bisa membeli kebutuhan lebaran dengan harga yang terjangkau.