Kepedulian Adalah Modal Dasar Komunitas Organik Indonesia (KOI), Simak Kisahnya!

22-06-2017 12:06:02 By Iwan Inkiriwang
img

JakartaVenue | Timbulnya berbagai penyakit yang diakibatkan oleh bercampurnya bahan kimia kedalam berbagai makanan dan obat-obatan beberapa tahun belakangan, membuat beberapa Usaha Kecil Menengah (UKM) membentuk suatu komunitas berbasis produk-produk berbahan dasar alami. Tepatnya pada tahun 2007 secara resmi terbentuklah Komunitas Organik Indonesia atau disingkat KOI.

“KOI terbentuk dari rasa keprihatinan para anggota terhadap banyaknya penggunaan bahan kimia dilapangan yang merusak tanah dan lingkungan, bahkan orang yang mengkonsumsi makanan seperti contohnya sayur-sayuran. Hal ini akibat penggunaan bahan kimia tinggi melalui pestisida dan sebagainya,” terang Emil selaku Ketua KOI saat ini.

Berkumpulnya para produsen UKM yang rata-rata adalah pengepul atau pemilik usaha maupun tanah ini awalnya sebagai bentuk sebuah kampanye agar bisa didengar suaranya. Mereka (produsen) ini mempunyai produk-produk organic, hanya masih kurang paham mengenai pemasarannya. Sehingga pada tahun 2007/2008 para produsen ini mulai rutin berkumpul dan mengadakan gathering sebulan sekali.Tujuan utama komunitas ini dibentuk sebenarnya adalah untuk mengedukasi masyarakat, terutama konsumen mengenai kenapa mereka harus mengkonsumsi makanan organic (alami)? Apa saja yang ada dalam makan organic? Dan juga apa sih bedanya yang organic dan konvensional?

Perlu JV Readers ketahui bahwa komunitas ini terbentuk juga atas peran serta dari Ujang Nugraha (salah satu pendiri Prambors) di Maxima Group. Hingga saat ini sudah ada sekitar 800 anggota komunitas yang tersebar diseluruh Indonesia dengan produk-produk kriteria organic, green, and healthy. Organik adalah produk-produk mentah seperti beras, sayur, dan buah-buahan. Green adalah produk-produk ramah lingkungan (daur ulang) seperti pembuatan bahan kaos dari bambu. Sedangkan Healhty adalah obat-obatan dan produk perawatan kulit alami seperti jamu, lulur, dan sebagainya.

Sedangkan bentuk dari edukasinya dapat berupa workshop rutin, ada yang seminggu atau dua minggu sekali diadakannya selain talkshow dan seminar-seminar.”Selain itu kami juga membentuk komunitas bagi para konsumen seperti komunitas Laras Alam,” tambah Emil menjelaskan.

“Kami juga rutin mengadakan bazaar setiap 2 minggu sekali. Karena kami tahu kendala utama dari komunitas ini adalah mengubah pola pikir orang untuk beralih ke organik. Seperti kita ketahui bahwa produk organik memang sedikit mahal tetapi kualitas tetap terjaga. Dan memang segmen pemasaran dari bahan-bahan organik ini adalah ke supermarket, marketplace, dan juga online. Untuk online bisa dilihat via web organik.id juga  sosial media seperti facebook, instagram ataupun tweeter,” tutup Emil.