Mengenal Blimbingsari, Bandara Ramah Lingkungan yang Penuh Kearifan Lokal

13-06-2017 03:06:07 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Bagi seorang traveler sejati, bandara mungkin punya makna yang lebih dari sekadar tempat persinggahan saja. Inilah yang membuat banyak kota di dunia yang membuat konsep bandara sedemikian rupa agar menarik perhatian para travelers yang sekadar singgah.

Di Indonesia juga banyak bandara unik, salah satu nya adalah Bandara Blimbingsari di Banyuwangi. Bandara ini tercatat sebagai green airport pertama di Indonesia dengan konsep yang menarik.

Arsitektur bandara dirancang oleh Andra Matin. Dari foto-foto Pemkab Banyuwangi yang diterima redkasi terminal baru di Bandara Blimbingsari memiliki arsitektur hijau yang unik dan bernuansa etnik.

Terminal berkapasitas 250.000 penumpang per tahun ini diharapkan menjadi ikon baru yang mendukung pariwisata.

Selain tampil dengan arsitektur penuh estetika, terminal ini mengedepankan penghematan energi dengan pendekatan konsep rumah tropis yang mengutamakan udara alami alias tanpa air conditioner/AC.Walaupun tanpa AC namun tetap sejuk dengan penanaman berbagai jenis tanaman dan konservasi air.

Desain interior terminal juga dikonsep minim sekat untuk melancarkan sirkulasi udara dan sinar matahari. Di dalam terminal juga terdapat kolam-kolam ikan yang berfungsi mengurangi tekanan udara sehingga suhu ruang tetap sejuk.

Jika dilihat lebih detail, kisi-kisi bahan bangunan Bandara Blimbingsari banyak menggunakan bahan daur ulang dengan memanfaatkan kayu ulin bekas kapal maupun dermaga. Sirkulasi udara diatur dengan komposisi ruang yang lebih banyak terbuka. Di sekeliling gedung terminal, seperti di atap gedung banyak tanaman hijau membentang dengan penanaman berbagai jenis tanaman dan konservasi air.

Desain interior terminal juga dikonsep minim sekat untuk menggaransi kelancaran sirkulasi udara dan sinar matahari. Di dalam terminal juga terdapat kolam-kolam ikan yang berfungsi mengurangi tekanan udara, sehingga suhu ruang tetap sejuk.

Selain aspek lingkungan, konsep hijau juga mengakomodasi budaya lokal. Kebiasaan masyarakat yang mengantar kerabatnya bepergian juga difasilitasi dengan ruang tunggu lantai 2 yang nyaman, sehingga pengantar merasa sedang berada di rumah.

Beberapa sudut ruang untuk terminal kedatangan, keberangkatan, ruang VVIP, ruang tiket, anjungan kantor penerbangan, mushola, hall, restoran, art shop kini sedang proses tahap akhir. Tak hanya sebagai penunjang infrastruktur angkutan massal, Bandara Blimbingsari juga diproyeksikan sebagai bandara penyanggah Ngurah Rai, Denpasar dan Juanda, Surabaya. Bangunan bandara ini juga merupakan salah satu bentuk etalase awal yang mencerminkan identitas daerah.

Bandara ini mengambil konsep passive design dengan pilihan pembangunan green building yang digarap sejak awal oleh arsitek. Energi alami dimanfaatkan dengan mengatur pencahayaan matahari sebagai penerang ruangan di siang hari.

Efisiensi energi salah satunya, tanpa escalator, sistem penerangan dengan matahari dengan penguraian kaca samping, sirkulasi pencahayaan berupa atap yang bisa tembus cahaya ke ruangan.Meski begitu ada beberapa fasilitas teknis supaya Bandara Blimbingsari ini bisa didarati pesawat Boeing 737. Seperti run way, apron dan infrastruktur lainnya.

Penulis: zacrafter
Foto: istimewa