4 Masjid Unik di Jakarta yang Wajib Masuk Daftar Wisata Religi

12-06-2017 03:06:20 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Di bulan suci Ramadan ini, ada banyak masjid di Jakarta yang dipenuhi dengan ratusan atau bahkan ribuan umat Muslim yang ingin berbuka bersama atau melaksanakan shalat berjamaah. Tetapi, ternyata ada juga masjid-masjid yang bisa dikunjungi untuk berwisata dikarenakan arsitektur dan sejarahnya yang unik.

Struktur bangunan maupun desain arsitekturnya pun kini semakin beragam dan begitu menarik untuk ditelisik lebih mendalam. Berkunjung ke masjid tentunya menjadi kegiatan yang semakin menyenangkan.

Wisata jelajah masjid bisa kamu jadikan pilihan. Ibadah jalan terus, tenangnya hati dan pikiran yang jadi bonus.  Berikut masjid-masjid cantik di Jakarta yang siap menyambut kedatanganmu.

  1.  Masjid Al-Munada Darussalam

Masjid Perahu atau yang memiliki nama asli Masjid Agung Al-Munada Darussallam Baiturrahman merupakan salah satu masjid unik yang wajib dikunjungi. Terletak di Jalan Casablanca, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, masjid ini tersembunyi di balik dua gedung apartemen Casablanca.

Pada sisi kiri masjid terdapat bangunan yang menjadi icon dari masjid yang didirikan oleh KH Abdurrahman Massum pada awal tahun 1960-an.Bangunan berbentuk perahu tersebut sekaligus menjadi toilet dan tempat wudu perempuan. Menurut keterangan warga pendiri Masjid Perahu sangat terinspirasi oleh kisah Nabi Nuh.

  1. Masjid Al Alam

Masjid Al-Alam Marunda yang berlokasi di Kampung Marunda Pulo RW 07 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, salah satu tempat yang perlu dikunjungi. Lokasi masjid yang berada persis di pesisir pantai Marunda ini juga menjadi salah satu dari 12 obyek destinasi wisata pesisir di Jakarta Utara. Konon Masjid Al Alam Marunda, dibangun hanya dalam tempo semalam.

Menurut kisah, masjid ini dibangun Walisongo saat menempuh perjalanan dari Banten ke Jawa. Karena itu, nama asli masjid ini Al-Auliya atau masjid yang dibangun wali Allah.

Kisah lain disampaikan bahwa pendiri masjid Al Alam adalah Fatahilah dan pasukannya pada tahun 1527 M, setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. Ada keyakinan di masyarakat Marunda, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam waktu satu hari.

Berangkat dari tempo pembangunan itu, tidak mengherankan bila masjid yang ukurannya mirip musala itu menjadi istimewa bagi masyarakat Marunda khususnya, dan umat Islam umumnya. Terlebih bila mengingat bahwa masjid ini juga sarat nilai sejarah perlawanan terhadap penjajah.

Sementara itu, melihat arsitektur Masjid Al Alam akan mengingatkan pada model Masjid Demak, namun berskala lebih mini  ukurannya 10 × 10 m per segi. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang empat pilar bulat seperti kaki bidak catur. Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kiri mimbar. Uniknya masjid ini berplafon setinggi dua meter dari lantai dalam.

  1. Masjid Ramlie Musofa

Kubah dan menara-menara kecil berwarna putih tampak menjulang tinggi di antara pemukiman elite di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Di bagian lain, Tulisan 'Masjid Ramlie Musofa' terukir dalam tiga bahasa itu, yaitu Indonesia Arab dan Mandarin terpampang di pagar depan masjid. Tulisan Bahasa Mandarin menunjukkan bahwa pemilik adalah warga Tionghoa.

Di sekeliling masjid, bambu kuning tertanam serupa pagar alami. Pucuknya dimainkan angin, menambah kesejukan masjid yang menghadap Danau Sunter itu. Masjid yang beralamat di Danau Sunter Selatan 1 Blok 1/10 nomor 12 C 14 A, Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu tengah jadi buah bibir.

Masjid bersih dengan ukiran di beberapa sisinya itu dibuat dengan perencanaan matang. Selama 40 tahun Ramlie menyimpan mimpinya. Barulah di pertengahan Mei 2016 mimpinya jadi kenyataan.

  1. Masjid Al Makmur

Masjid Al Makmur adalah salah satu masjid tertua yang ada di Ibu Kota Jakarta. Masjid yang lebih dikenal dengan Masjid Al Makmur Raden Saleh ini dibangun pada tahun 1923/1924 silam.

Masjid yang berada di tepi Sungai Ciliwung ini disebut Masjid Al Mamur Raden Saleh lantaran berada di Jalan Raden saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Sebelum berada di tempatnya sekarang, masjid ini dahulunya berada di belakang rumah Raden Saleh Syarif Bustaman yang saat ini jadi Rumah Sakit Cikini, Jalan Raden Saleh.

Dahulu, masjid yang termasuk salah satu masjid bersejarah ini hanya terbuat dari bilik bambu layaknya rumah panggung. Karena itulah, masjid ini mudah dipindah dengan cara digotong ke arah timur atau tempat yang sekarang, yakni di tepi Sungai Ciliwung Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat. Karena, lahan yang sekarang tempat masjid itu berdiri kokoh dahulunya hanyalah sebidang tanah kosong.

Pemindahan ini juga bukan tanpa dasar. Hal itu agar para jamaah mudah menggunakan air Ciliwung yang awal abad ke-20 masih tampak bersih. Masjid ini merupakan pindahan dari sebuah musala sederhana dari kayu dan gedek, yang kurang lebih sejak tahun 1850 pernah berada dalam kebun luas pelukis termasyhur Raden Saleh.

Sebuah panitia yang didukung antara lain oleh H Agus Salim kemudian membangun masjid kembali hingga menjadi yang kokoh seperti sekarang. Pada tahun 1932/1934 terjadi perombakan dan penambahan gedung dengan dukungan Sarikat Islam. Menara masjid ini luar biasa untuk Jakarta, karena tidak lancip di atas, melainkan membentuk kubah.

Penulis: zacrafter
Foto: istimewa