“Mutual Unknown” Sebuah Karya Seni Yang Dibuat Secara Interaktif Antara Seniman Dengan Pengunjung

08-06-2017 08:06:35 By Iwan Inkiriwang
img

JakartaVenue | Sebelumnya mungkin kita membayangkan karya-karya yang telah dipajang rapi ketika memasuki ruangan Galeri Nasional Indonesia. Namun, berbeda dari pameran-pameran sebelumnya, yang cenderung berbasis objek, kali ini kita akan disuguhkan sebuah pameran yang tidak biasa, dimana para seniman akan berkarya pada saat pameran dan berinteraksi langsung dengan pengunjung galeri. Pengunjung yang hadir diharapkan dapat berbagi pandangan, mengajukan pertanyaan, dan secara aktif berinteraksi dalam proses penciptaan karya seni. Maka, alih-alih sebagai presentasi dari sebuah hasil, Mutual Unknown merupakan pameran berbasis proses.

Sembilan seniman, tiga kurator, dan audiens akan bersama-sama menciptakan karya seni, serta mengambil peran dalam diskusi mengenai Asia Tenggara dalam waktu 2 minggu. Seniman yang terpilih untuk mengikuti program ini adalah Azam Aris (Malaysia), Fajar Abadi (Indonesia), Nuttapon Sawasdee (Thailand), Kaung Myat Thu (Myanmar), Leonard Yang (Singapura), dan Noy Xayatham (Laos). Kurator pameran adalah Henry Tan (Thailand), Sally Texania (Indonesia), dan Rifandy Priatna (Indonesia).

Seniman dan proses karya dalam pameran ini diposisikan sebagai sebuah pintu awal diskusi dan komunikasi aktif bagi seluruh pengunjung pameran. Karenanya tidak ada karya yang sudah selesai untuk bisa dilihat dalam pameran ini. Lebih detail, pameran yang diselenggarakan oleh CuratorsLAB dan didukung penuh oleh Goethe-Institut dan Galeri Nasional Indonesia-Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan antara lain; sebagai bangsa di Asia, apakah kita memiliki pemikiran regional bersama?. Bagaimana sebuah pameran dan kegiatan berkesenian menciptakan kesempatan diantara jaringan dan kepentingan yang beraneka ragam?, dan, bagaimanakah sebuah pameran menjadi simulasi dari cara manusia Asia Tenggara bertetangga?.