IFRA 2017, MEA Jangan Dilihat Sebagai Ancaman Asing

20-05-2017 03:05:45 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Pameran yang menampilkan berbagai peluang usaha dan waralaba, International Franchise, License & Business Concept Expo & Conference (IFRA), telah resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Tjahya Widayanti dan Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran, Kementerian  Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta. Kembali dihelat di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, IFRA 2017 akan berlangsung selama tiga hari mulai 19 hingga 21 Mei 2017.

Anang Sukandar, Ketua Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) selaku penyelenggara IFRA 2017, menyatakan bahwa  kreativitas masyarakat Indonesia dalam mencari peluang-peluang ekonomi sangat besar. “Oleh karena itu, melalui IFRA ini kami ingin memberikan informasi dan edukasi yang lebih baik kepada berbagai lapisan masyarakat yang mencari peluang-peluang ekonomi, terutama dari sektor waralaba,” ujar Anang. Melalui ajang IFRA, AFI mengajak masyarakat untuk berani melirik peluang menjadi pengusaha.

Mengusung tema “Take A Chance To Become An Entrepreneur”, AFI mengajak anggotanya serta para calon pengusaha waralaba baru untuk mengembangkan bisnis mereka tidak hanya di level nasional, tetapi juga menyasar peluang di kawasan ASEAN. Hadirnya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diharapkan akan mendorong ekspansi bisnis waralaba Indonesia ke berbagai negara di Asia Tenggara, bahkan dunia.

“Hadirnya MEA jangan dilihat sebagai ancaman akan serbuan franchise asing ke Indonesia. Sebaliknya, kita harus bisa memanfaatkan MEA untuk melakukan penetrasi bisnis ke berbagai negara di kawasan Asia Tenggara. Saya yakin kita memiliki modal yang cukup baik untuk melakukan ekspansi usaha,” jelas Anang. Di Indonesia sendiri saat ini terdapat sekitar 700 waralaba dengan jumlah gerai nyaris mencapai 25 ribu gerai di seluruh Indonesia dengan serapan tenaga kerja mencapai lebih dari 90 ribu orang. Nilai transaksi industri waralaba yang dibukukan pada 2015 mencapai Rp172 triliun dengan potensi kenaikan diperkirakan mencapai 10-15 per tahun.