Tren Minum Kopi, antara Gaya Hidup atau Ikut-ikutan

10-05-2017 09:05:05 By Ganest Afliant
img

Dahulu, kopi banyak dinikmati untuk menghilangkan rasa kantuk. Terlebih bagi para pria yang senang tidur hingga lewat tengah malam.

JakartaVenue | Zaman telah bergeser, begitu pula gaya hidup yang terbentuk di tengah masyarakat. Nyatanya kopi bukan lagi sekedar kebutuhan untuk begadang, hal itu ditunjukkan dengan menjamurnya kafe dan kedai kopi di berbagai sudut jalanan.

Para penikmat kopi pun bertambah, kini berasal dari berbagai kalangan. Banyaknya kedai kopi juga mempunyai daya tarik tersendiri, itu akan merangsang seseorang untuk datang mencoba menu yang disuguhkan. Padahal, bagi pencinta kopi, kopi bukan hanya sekedar trend melainkan cara menikmati cita rasa kopi yang konsisten.

Pemilik dan pengelola Kedai Vivieri di bilangan Pluit yang ditemui beberapa waktu  lalu bercerita tentang perkembangan kopi 3 generasi kebelakang. "Kita Flashback dari 3 generasi kebelakang, generasi pertama itu adalah kopi tradisional, seperti kopitiam dan kopi tarik khas melayu. Generasi kedua itu merupakan coffeshop komersil, seperti starbucks, coffeebean dan excelso. Kemudian generasi ketiga itu adalah menyajikan kopi khusus, seperti viveri dan tanah merah."

Terkadang anak muda hari ini menikmati kopi hanya sebagai pelampiasan. Mau begadang minum kopi, kumpul-kumpul bareng sambil ngopi, melepas penat dengan kopi. Tren ngopi di masyarakat Indonesia ini dinilai msebagai sifat "latah". Yakni, mengikuti sesuatu yang sedang menjadi tren. Padahal manfaat minum kopi banyak, salah satunya dari segi kesehatan.

“Efek dari minum kopi itu bisa bikin orang ga bisa tidur dan manfaatnya bisa melancarkan peredaran darah, karena bisa melancarkan darah jadi darah bisa cepat mengalir ke otak, jadi otomatis orang bisa lebih focus apa yang dikerjakan. Kopi juga bisa mencegah struk, serangan jantung tapi efek sampingnya bisa osteoporosis tapi dalam jangka panjang, makanya kopi biasa digandeng dengan susu yang bisa nambah kalsium,” ujarnya.

Menurut Thomas DePaulis, Phd, seorang ilmuwan dari Vanderbilt University's Institute for Coffee Studies, semakin banyak meminum kopi, diperoleh hasil yang semakin baik. Nampaknya bagi mereka yang tidak meminum kopi, juga memiliki resiko terkena kanker kolon, sirosis hati, bahkan batu empedu. Penelitan terbaru lainnya menunjukkan bahwa kopi dapat memberi keuntungan bagi kesehatan jantung, mengurangi resiko penyakit jantung sampai 53 persen.

Ia pun mengatakan sifat dan fisik dari kopi arabika yang berbeda-beda setiap daerah, karena setiap daerah mempunyai iklim dan tanha yang berbeda-beda, seperti Kopi daerah Toraja dengan rasa coklatnya.

“Arabika punya sifat mudah menyerap rasa dan aroma di sekitarnya, itu sebabnya barista dan roasternya tidak boleh pakai parfum karena akan mempengaruhi rasa dan aroma. Begitupun origin yang ada di Indonesia, karena tanah di Indonesia itu berbea-beda dan ketinggian yang berbeda-beda,” tegasnya.

Perbedaan memang selalu ada, tapi perbedaan tidak kaitannya dengan rasa, karena perbedaan arabika dan robusta itu selera dari penikmat kopi.

“Dari segi harga jelas berbeda, karena robusta harganya jauh lebih murah dari 1/3nya harga arabika. Sementara robusta bisa tumbuh dimana saja dan robusta lebih tahan hama, kemudian untuk lebih bagusan kopi antara arabika dan robusta itu selera. Jadi kita peminum kopi arabika bisanya sensitive dengan robusta, sebalikauntuk pecinta kopi robustapun sebaliknya,” tandasnya.

Disekitar kita ini sudah banyak coffeeshop-coffeshop dari berbagai macam kopi. Wilson mengatakan untuk membuka coffeshop itu jangan sembarangan, karena banyak sekali hanya untuk mencari uang sebanyak-banyaknya di industry kopi.

“Kopi itu adalah seni dan bagaimana kita kembangin seni kita jadi sebagaimana seni kopi kita berkembang dan otomatis bisnis kopi kitapun ikut berkembang,”tutupnya.