Ternyata Ini Yang Menyebabkan Pendaki Gunung Sering Celaka!

02-05-2017 10:05:57 By Iwan Inkiriwang
img

JakartaVenue | Mendaki gunung atau gerakan pecinta alam belakangan ini semakin semarak dan sangat digandrungi banyak orang, bahkan tidak terbatas hanya kaum laki-laki saja. Wanita, tua-muda, remaja, dan mahasiswa. Mendaki gunung selain hobi juga merupakan salah satu yang menjadi tren wisata, seperti merayakan tahun baru dipuncak gunung dan melihat matahari terbit.

Namun seringkali juga kita mendengar banyak kejadian tragis dan mengerikan bahkan sampai merenggut nyawa dari mereka yang mendaki gunung. Sebagai salah satu olahraga berbahaya selain panjat tebing, mendaki gunung bukanlah suatu pekerjaan atau perjalanan yang dapat dilakukan secara asal saja. Disinilah titik atau faktor yang seringkali menjadi sumber malapetaka, dimana dengan persiapan yang minim orang melakukan pendakian kesebuah gunung atau bukit.

Berikut ada beberapa faktor yang membuat seseorang mengalami nasib buruk saat mendaki gunung disamping persiapan dan pengetahuan yang minim, yaitu:

Kesombongan atau sok jagoan

Sikap sok jagoan dan sombong, merasa pintar, dan arogan adalah salah satu faktor penyebab seorang pendaki mengalami kecelakaan atau musibah. Biasanya mereka yang memiliki sifat seperti ini adalah para pendaki pemula. Alasan mencari tantangan, para pendaki pemula ini biasanya tidak mengindahkan peringatan dan mengabaikan jalur resmi yang sudah ditentukan. Akibatnya adalah mereka tersesat atau terjebak di tengah atau terjatuh kejurang.

 Minim dan buruknya persiapan logistik

Faktor kedua adalah masalah buruknya persiapan logistik atau perbekalan selama mendaki. Banyak yang mengira atau berpikir supaya tidak repot, cukup membawa mie instan sebagai bekal. Padahal ini adalah sebuah kesalahan yang cukup fatal. Karena mendaki gunung ini adalah sebuah kegiatan yang cukup ekstrim, dimana akan sangat menguras stamina dan kalori yang besar. Kebutuhan kalori ini tidak ada dalam kandungan mie instan, tetapi didalam daging, coklat, atau makanan berkarbohidrat.

 Mendaki dalam rombongan besar atau beramai-ramai

Para orangtua seringkali menganggap bahwa bila pergi bersama rombongan atau beramai-ramai, maka akan lebih aman buat anak-anak. Alih-alih merasak bisa saling memantau, mendaki dengan jumlah rombongan ini malah sebenarnya tidak dianjurkan. Kenapa? Hal ini akan menimbulkan kesulitan-kesulitan saat mendaki, sebagai contoh adalah pengaturan pembagian logistik dan pengaturan. Apalagi bila tidak disertai seorang instruktur berpengalaman dan berwibawa. Bukannya lancar, aman, dan berkesan malah pertengkaran beda pendapat dan celaka karena banyaknya kemauan masing-masing.

 Inilah beberapa faktor yang sering menjadi alasan kenapa banyak sekali pendaki gunung yang mengalami kecelakaan atau bernasib buruk. Sebenarnya masih banyak faktor lainnya, oleh karena itu sebaiknya bila JV Readers ingin mendaki gunung pelajari dan persiapkan pengetahuan serta teknik-tekniknya. Jangan lupa minta pendampingan dari orang yang berpengalaman atau tim pemandu setempat.