Kisah Sukses Jody Broto Suseno Kembangkan Waroeng Steak & Shake

29-04-2017 08:04:01 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Kisah Pengusaha Sukses di Bidang Kuliner Jody Broto Suseno ialah seorang pendiri sekaligus pemilik dari waroeng Steak n Shake, juga pencetus lahirnya rumah Tahfizh Indonesia.

Kira-kira 10 tahun lalu usaha yang dilakukan oleh orang ini telah didirikan, dan saat ini usaha kulinernya telah mencapai 50 gerai, dan juga memiliki mempekerjakan 1.000 karyawan dengan omzet di atas Rp 100 juta/bulan untuk setiap gerainya. 

Mendengar kata steak akan teringat makanan khas Eropa yang mahal harganya. Namun, itu tidak berlaku di Waroeng Steak and Shake miliknya. Hanya dengan merogoh kocek Rp 8.000 sampai Rp 15.000, aneka macam steak pun dapat dinikmati dengan cita rasa yang tak kalah dengan steak di hotel berbintang.

Semenjak lulus dari SMA pada tahun 1993, Jody banyak sekali menjajal berbagai macam usaha, mulai bisnis parsel, susu segar, roti bakar, hingga kaos partai. Untung dan rugi pun sangat sering ia alami.

Pengalaman terakhir tahun 1997 adalah mengurusi usaha steak milik orang tuanya. Dari sinilah ia mendapatkan inspirasi untuk membuat usaha kuliner steak dengan harga mahasiswa. Jody pun mulai memikirkan cara menekan harga steak yang sejatinya memang mahal.

Diakui Jody, untuk mendirikan Waroeng Steak and Shake dibutuhkan modal awal yang cukup besar. Namun ia memiliki sepeda motor yang merupakan pemberian dari sang orang tua, yang akhirnya dijual sebagai modal usaha. Ia gunakan hasil penjualan itu untuk sewa tempat di daerah Demangan Yogyakarta, sebagian lagi untuk peralatan usaha, dan sisanya untuk membeli motor tua sebagai alat transportasi.

Masa awal ini lebih banyak dukanya daripada sukanya. Namun, usaha ini tetap jalan. Jody bertugas memasak di dapur, istrinya melayani tamu sekaligus menjadi kasir, dan dua karyawannya menangani tugas lainnya.

Pada tahun pertama masih bisa menggaji karyawan dan memenuhi kebutuhan keluarga, meski pas-pasan. Hubungan dengan para pelanggan dan masukan yang dilontarkan mereka membuat Jody terus berlatih. Jody pun berinisiatif membuat daftar harga dan dipasang di depan warung miliknya. Ternyata cara ini efektif. Tidak lama berselang, banyak pengunjung dari berbagai kalangan memenuhi gerainya. Lalu pada tahun yang kedua, usahanya mulai menampakkan hasil. Pengunjungnya semakin stabil, bahkan tidak mampu melayani seluruh pengunjung. 

Maka ia pun mengajak keluarganya untuk berinvestasi mengembangkan usaha ini, mulai dari ayah, ibu, saudara serta paman, dan keluarga lainnya diajak berinvestasi dengan bagi hasil 1:1. Semakin hari usaha ini semakin berkembang hingga cabang ke-7 dengan sistem bagi hasil. Barulah pada gerai ke-8 dan seterusnya Jody mampu mendanai sendiri gerainya, tanpa menerapkan pola franchise. Dan akhirnya, sekarang usaha ini menjadi usaha yang berkembang dan cocok dilidah semua kalangan masyarakat.

Penulis: Chintya
Foto: Istimewa