Kontroversi Seputar Perayaan Hari Kartini, Ada Apa?

21-04-2017 03:04:46 By Addo Richard
img

JakartaVenue - Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Berkat pemikiran serta kontribusinya terhadap bangsa, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Penetapan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini sejak awal telah menuai perdebatan. Sejumlah pihak menghendaki adanya persamaan di antara semua pahlawan perempuan di Indonesia. Sebab, tokoh perempuan di Indonesia yang dianggap berjasa bukan hanya Kartini. Bahkan, dari aspek heroisme, ada sejumlah perempuan yang dianggap lebih dahsyat, yang berjuang secara fisik melawan kolonialisme Belanda, seperti Tjut Nyak Dien dan Christina Martha Tiahahu. Tak hanya itu, dari aspek pemikiran, Dewi Sartika pun layak diperhitungkan.

Karena itu, pihak yang berkeberatan dengan penetapan Hari Kartini menuntut keadilan bagi seluruh pejuang wanita Indonesia tempo doeloe. Apabila ada Hari Kartini, mengapa tidak ada Hari Tjut Nyak Dien, Hari Christina Martha Tiahahu, Hari Dewi Sartika, dan sebagainya. Selain itu, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Sikapnya yang pro terhadap poligami juga bertentangan dengan pandangan kaum feminis tentang arti emansipasi wanita.

Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis.

Dibalik segala kontroversi perayaan hari Kartini tersebut, banyak pula yang beranggapan bahwa sosok Kartini bukan sekadar tokoh emansipasi wanita yang mampu mengangkat derajat kaum perempuan di Indonesia saja. Kartini juga tokoh nasional. Melalui aneka gagasan serta idel pembaruannya, dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara berfikirnya sudah dapat dikatakan melingkupi perjuangan nasional.

 

berbagai sumber