Butet Jadikan Hakim Sarmin Sebagai Cerminan Kegilaan dan Carut Marut Hukum

08-04-2017 10:04:23 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Teater Gandrik yang merupakan kelompok teater asal Yogyakarta menyajikan pentas dengan lakon Hakim Sarmin. Dikemas  cerdas dan penuh sindiran terhadap pemerintah dan masyarakat saat ini.

Naskah Hakim Sarmin yang ditulis oleh Agus Noor dan Butet Kertaradjasa sebagai produser sekaligus menjadi tokoh utama dalam lakon tersebut membuat pementasanan yang berdurasi 135 menit itu menjadi rileks, jenaka namun sarat dengan makna dan pesan moral yang sangat kuat. Terlebih lagi arahan dari sang sutradara G Djaduk Ferianto sangat jelas menggambarkan cerminan masyarakat Indonesia saat ini dalam balutan lantunan-lantunan lagu yang disisipkan dialog.

Lakon Hakim Sarmin berlatar belakang ketika para hakim lebih memilih masuk dalam rumah sakit jiwa yang disebut pusat rehabilitasi bersama-sama menyatukan misi revolusi keadilan. Bagi hakim yang menolak bergabung dikabarkan mati terbunuh. Isu pembersihan hakim pun menuai kecemasan.

Pimpinan pusat rehabilitasi yang diperankan oleh Susilo Nugroho sebagai Dokter Menawi Diparani mengatakan akan terjadinya wabah kegilaan yang berbahaya. Kegilaan cepat menyebar dan menakutkan melebihi penyakit sampar.

Lakon Hakim Sarmin yang diperankan mas Butet mengisahkan jaman dimana keadilan dan kegilaan sudah tak bisa lagi dibedakan. Kegilaan dari pikiran yang sudah menjadi trend, kalau tidak gila akan dianggap jadul dan kurang gaul.

Lakon ini merefleksikan kegilaan masyarakan di tengah carut-marutnya hukum saat ini. Dikemas dengan kocak dan satir serta guyonan-guyonan namun memberikan pesan ironi membuat para penonton berfikir akan kewarasaan yang ada.

Pementasan yang digelar di Graha Bhakti Budaya ini tentunya didukung para seniman Indonesia antara lain purwanto (penata music) Ong Hari Wahyu (penata artistic), Rully Isfihana dan Atut Tarwiyah (penata kostum), Dwi Novianto (penata cahaya), Antonius Gendel (penata suara), dan tim lain yang berkontribusi untuk menyemarakan pentas Hakim Sarmin.

Penulis: Adrian Andika
Editor: Ganest Af Lianto

Foto: Putri/JakartaVenue