Mas Mono, Pernah Jadi Office Boy dan Kini Milyarder

02-04-2017 10:04:06 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Menjadi office boy, tukang gorengan dan sales adalah sederet pekerjaan masa lalu Agus Pramono yang akrab dipanggil Mas Mono ini. Bisnis ayam bakar yang dirintisnya di tahun 2001 tak disangka meledak di pasaran. Kini, setidaknya ia telah memiliki 20 cabang dengan omset puluhan juta per hari serta melego franchisenya seharga 500 juta rupiah.

Cukup sulit membayangkan masa lalu Mas Mono yang kini telah menjelma menjadi seorang milyarder. Betapa tidak, belasan tahun yang lalu ia masih harus menjalani hidup sebagai OB disebuah perusahaan. Bosan menjadi OB perlahan ia menata hidupnya menjadi pengasong gorengan dari SD ke SD, dari kompleks ke kompleks dengan berjalan kaki. “Ya, itulah masa lalu saya. Disaat saya menjadi OB, bapak saya di desa meninggal. Saya tak bisa pulang karena tak ada uang. Itu tamparan keras bagi saya. Dari situlah, akhirnya saya putuskan untuk keluar kerja,” tutur pria kelahiran Madiun, 28 Agustus 1974 itu.

Putus kerja tapi hidup harus terus dilakukan, dengan modal seadanya ia mulai meniti hidup dengan menjual gorengan dari SD ke SD. Cukup lama ia melakoni profesi itu sampai akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk mangkal. “Saya sewa tuh lahan, karena jual gorengan tidak maksimal untungnya hanya 15 ribuann per hari, saya beralih ke ayam bakar,” tuturnya. Dengan modal 500 ribu rupiah, ia mulai berjualan 5 ekor ayam perhari.

Wangi kepulan asap dari ayam yang dibakarnya ternyata mampu menyedot pelanggan. Dari hari ke hari, pelanggannya makin berlimpah. Bahkan, Mas Mono pun akhirnya mampu menghabiskan 80 ekor ayam per hari. “Saya punya tempat mangkal pun itu anugrah terindah. Saya serasa punya kantor sendiri, tidak harus mengasong lagi. Alhamdulillah saya dikasih lebih, dari 5 ekor meningkat menjadi 10 ekor, begitu seterusnya hingga mampu menjual ayam bakar 80 ekor per hari atau sekitar 380 potong. Dengan kondisi tempat masih di kaki lima itu sebuah pencapaian yang luar biasa!” Ungkapnya.

Naas bagi Mas Mono, disaat bisnisnya sedang menanjak dan naik daun, bencana penggusuran pun melanda. Ia dipaksa hengkang dari tempat mangkalnya. Di Tebet, kebingungan pun belum juga reda. Ia dihadapkan pada persoalan baru, lokasi yang tidak strategis. Pria penyuka rujak cingur ini harus menata ulang lagi bisnisnya. Dengan lokasi yang mojok dan tersembunyi itu, ia harus berjuang agar pelanggan kembali ramai. Tak jarang iapun mengajak bekas pelanggannya ditempat dulu untuk mampir ke lokasi barunya. Hasilnya, pelan tapi pasti berkat kegigihannya dan perjuangannya.

Rupanya ujian belum selesai juga menimpa dirinya. Di babak kedua dari kebangkitan bisnisnya itu, flu burung menerjang, memborbardir omsetnya. “Dengan merajalelanya flu burung, spontan penjualan pun merosot dan sepi. Dari situ saya terus belajar untuk syukur nikmat hingga cobaan itupun berlalu,” ucap pria yang kini telah mematenkan brand Mas Mono dibawah payung Panen Raya Indonesia itu.

Setelah hampir 10 tahun berlalu, akhirnya sukses pun menghampiri. Dari satu cabang yang didirikannya kini sudah beranak pinak menjadi 20 cabang yang tersebar dibeberapa wilayah di Jabodetabek seperti Kalimalang, Pondok Gede, Ciputat, Cileduk, dan daerah lainnya. Diakuinya, satu hari di setiap cabangnya bisa menghabiskan sekitar 150-200 ekor ayam. Mengenai omset, jangan ditanya. Di setiap cabangnya per hari mampu meraup untung hingga 8 jutaan. Sukses dengann ayam bakar, Mas Mono pun merangsek ke bisnis lainnya seperti bakso, catering, travel umroh dan haji dan lain-lain. “Karena saya mengambil segmen semua lapisan masyarakat, jadi tempat saya bisa disinggahi siapapun. Sehari ya bisa 200 orangan yang berkunjung. Harganya juga cukup murah, hanya 13 ribuan per porsi,” jelas pria yang kini telah memiliki 400 karyawan ini. 

Penulis: Chintya
Foto: Istimewa