Solo Dance Kisahkan Persahabatan Indah Dalam Balutan Lagu, Puisi dan Tari

02-04-2017 07:04:28 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Persahabatan dua perempuan bisa memberikan banyak warna dan menjadi inspirasi tanpa batas bagi para pelaku seni. Tema ini yang diangkat oleh Solo Dance Studio yang menampilkan karya terbarunya berjudul Rendezvous, sebuah persahabatan indah dalam lagu, puisi dan tari yang ditampilkan di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, hari ini.

Pertunjukan ini mengkisahkan persahabatan dua perempuan, yang selalu bertemu di tempat yang sama dan memperbincangkan berbagai hal. Persahabatan keduanya penuh nyanyian, tarian dan bahkan saling bermain kata lewat puisi. Suatu saat, terjadi konflik dan berujung putusnya komunikasi di antara mereka meskipun dua perempuan itu saling merindukan untuk bertemu.

Sebuah suasana sunyi dalam perasaan bersitegang yang puitik dan lirih melingkupi keduanya. Dalam duka, mereka menyanyikan dan menarikan puisi Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana karya Sapardi Djoko Darmono dan memberi hidup puisi yang dilagukan itu.

 “Solo Dance Studio adalah salah satu komunitas terpilih di program Ruang Kreatif: Bincang Seni Pertunjukan Indonesia, sebuah program edukasi seni pertunjukan dari Galeri Indonesia Kaya yang mencakup teori dan praktek dalam proses pembuatan seni pertunjukan. Solo Dance Studio tampil dengan kesegaran dan memberikan pertunjukan yang ringan dan sederhana namun menunjukkan kematangan dan persiapan. Komunitas seperti ini yang harus kita dukung dan beri ruang untuk menampilkan kreativitas mereka sehingga kemampuan mereka dapat terus diasah dan berkembang,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Pementasan berdurasi kurang lebih 60 menit ini ini menampilkan dua penari, antara lain Astri Kusuma Wardani dan Wirastuti Susilaningtyas, komunitas yang telah berkolaborasi dengan berbagai artis nasional dan internasional ini mampu membawa penikmat seni dalam kisah dua sahabat yang penuh warna.

“Dalam setiap penampilan, kami mempunyai misi untuk menciptakan lingkungan pembelajaran dan sekaligus sebagai proses pengembangan. Melalui rangkaian gerak tubuh kami merasa lebih mampu mengekspresikan apa saja yang ada di kepala kami melebihi kata-kata. Kami juga ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih menghargai proses berkarya dalam wadah yaitu seni pertunjukan. Seperti halnya yang kami lakukan dalam karya Rendezvous, kami mendapatkan kesempatan untuk lebih mengeksplorasi pertunjukan tidak hanya dalam hal tari saja, tetapi juga musik dan puisi,” ujar Astri Kusuma Wardani dan Wirastuti yang merupakan salah satu koreografer sekaligus Penari dalam komunitas ini.

Solo Dance Studio adalah sebuah kelompok/ komunitas tari profesional yang aktif mencari nilai-nilai di semua tradisi Indonesia dan untuk menciptakan hubungan dari berbagai macam sumber. Penekanannya pada proses tari dan kecerdasan gerak tubuh untuk mencapai pemahaman yang lebih baik dari tari itu sendiri dan kehidupan manusia pada umumnya.

 Secara filosofis berarti menari sendiri/ single, tubuh sebagai kinerja yang benar-benar jujur. Eksplorasi ruang yang tidak terbatas bagi 'Solo Dance Studio' untuk melihat dan menemukan kemungkinan pergerakan estetis, kolaboratif dan koreografi dengan pengetahuan intelektualitas. Dengan sembilan penari, lima koreografer, dua tim artistik dan satu direktur artistik, 'Solo Dance Studio' telah menciptakan dan melanjutkan produksi tari dan pertunjukan, baik lintas Indonesia maupun luar negeri.

Penampilan Solo Dance Studio ini menutup rangkaian pertunjukan karya kreator muda yang terpilih melalui program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia yang telah berlangsung selama bulan Maret 2017. Program ini dilatarbelakangi seni pertunjukan yang terus tumbuh dan berkembang di Indonesia, namun hal ini tidak sejalan dengan tumbuhnya regenerasi kreator muda yang mampu terus konsisten berkarya sekaligus membangun komunitas seni di lingkungannya.

Para kreator muda dari seluruh Indonesia diajak untuk menuangkan gagasan pementasan dalam Proposal Art Project dan akhirnya dipilih 10 kelompok seni yang mengikuti pelatihan dan didampingi oleh tiga orang mentor yaitu Yudi Ahmad Tajuddin, Eko Supriyanto dan Garin Nugroho.