"Kukusan Paon" Tampilkan Kekuatan Terpendam Perempuan

01-04-2017 11:04:52 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Di akhir pekan ini, Galeri Indonesia Kaya akan menampilkan salah  satu pertunjukan karya kreator muda yang terpilih melalui program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia. Program ini merupakan program edukasi seni pertunjukan yang mencakup teori dan praktek dalam proses pembuatan seni pertunjukan yang didampingi oleh tiga orang mentor yaitu Yudi Ahmad Tajuddin, Eko Supriyanto dan Garin Nugroho. Hari ini, penikmat seni di Auditorium Galeri Indonesia Kaya dihibur dengan pementasan dari komunitas seni KITAPOLENG yang berjudul KUKUSAN PAON.

Ibu Made, pemilik Made`s Warung yang ada di Kuta, Bali menjadi salah satu inspirasi pementasan ini. Sejak tahun 1969, beliau mampu membuat warung dengan masakan khas Balinya menjadi titik temu para manusia-manusia yang berdatangan ke Bali.

“Perempuan sering kali dipandang sebagai makhluk yang lemah, tetapi dibalik kelembutannya, perempuan selalu memiliki kekuatan yang terpendam. Terinspirasi dari beberapa tokoh perempuan yang kami percaya kesuksesannya berasal dari simbol perempuan yaitu ruang kekuasaannya, Paon (dapur). Kami harap pertunjukan kami dapat menghibur dan memberikan ilmu kesenian kepada para penikmat seni di Galeri Indonesia Kaya sore hari ini,” ujar Jasmine Okubo sebagai Koreografer.

Dapur dalam jaman Majapahit disebut pawon yang mengandung dua pengertian. Pertama, bangunan rumah yang khusus disediakan untuk kegiatan masak-memasak dan kedua adalah tungku. Kata pawon berasal dari kata dasar awu yang berarti abu, mendapat awalan pa- dan akhiran -an yang berarti tempat. Dengan demikian, pawon (pa+awu+an) adalah tempat awu atau abu. Kenyataannya memang demikian, dapur atau pawon memang tempat abu dimana tradisi di Bali pun tidak jauh berbeda dengan tradisi Jawa. Bali juga memiliki kepercayaan bahwa dapur atau paon selain tempat memasak dapat juga menjadi tempat mengusir atau menetralisir energi buruk.

“Program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia diselenggarakan tidak hanya sebagai regenerasi seniman tetapi juga melihat gagasan pementasan yang baru dan tentunya kreatif. KITAPOLENG mempersembahkan sebuah tarian yang dikemas secara kontemporer serta menyatukan visual art dan seni instalasi dan kesenian lainnya sesuai konsep, memukau penikmat seni yang hadir di Auditorium Galeri Indonesia Kaya. Inovasi dan kreativitas ini semoga dapat menjadi inspirasi bagi para seniman muda untuk senantiasa mencari gagasan baru dan kreatif dalam menciptakan karya seni pertunjukan,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

KITAPOLENG adalah sebuah komunitas yang bergerak dibidang seni, seperti seni entertainment, desain kostum, visual art, videography, photography, artistik dan fine art yang didirikan sejak tahun 2015. Terinspirasi dari filosofi Bali Poleng, dimana alam semesta ini diciptakan oleh Sang Maha Kuasa dalam kondisi berpasangan tetapi memiliki sifat bertolak belakang seperti hitam-putih (poleng), siang-malam, dsb. Dua hal yang bertentangan ini tidak saling memusnahkan dan menghilangkan salah satunya, melainkan keduanya harus berjalan selaras dan seimbang. Perbedaan ini kadang bisa menciptakan karya yang menarik sebab dua pemikiran yang bertentangan dapat disatukan karena memiliki tujuan yang sama. Dalam komunitas ini, keduanya memiliki kelebihan yang berbeda namun disatukan dalam satu wadah yaitu Dibal Ranuh sebagai Artistic Director dan Jasmine Okubo selaku koreografer yang memiliki kecintaan kuat terhadap seni tradisi Indonesia.