Tak Seperti Daerah Lain di Bali, di Tempat Ini Ogoh-Ogoh Malah Pantangan

27-03-2017 10:03:09 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Saat menjelang hari raya Nyepi di Bali dan sejumlah daerah lainnya akan diwarnai kirab atau arak-arakan patung raksasa. Arak-arakan tersebut merupakan satu rangkaian dari upacara Bhuta Yajna, yaitu upacara pengusiran roh-roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang merepresentasikan Bhuta Kala.

Bhuta Kala dalam ajaran Hindu Dharma mencerminkan kekuatan, adalah Bhu yang memiliki arti alaml semesta dan waktu, Kala berarti yang tak terukur dan tak terbantahkan. Bhuta Kala ditampilkan dalam bentuk patung besar dan menakutkan, biasanya berwujud Rakshasa.

Sebelum mengarak Ogoh-ogoh terlebih dahulu diawali dengan upacara persembahyangan kemudian pada sore harinya baru mulailah masyarakat melakukan kirab keliling di jalan-jalan kampung ataupun juga di kota dengan membawa patung Rakshasa tersebut.

Beda hal dengan daerah-daerah lainnya di Bali yang ramai dengan hiasan Ogoh-ogoh, ada satu daerah bernama Renon malah warganya pantangan untuk membuat Ogoh-ogoh. Mengapa begitu? Konon beredar cerita bahwa setiap kali warga membuat Ogoh-ogoh, lalu Rakshasa tersebut hidup.

Hal mistis itu berawal dari kejadian  yang terjadi sebelum Ogoh-ogoh diarak saat dilakukan tarian Baris Cina yang merupakan tarian sakral warga Renon. Tiba-tiba pada saat yang sama terjadi kegaduhan, banyak warga yang melihat wujud Ogoh-ogoh tersebut hidup. Patung yang berwujud babi hidup menjadi babi dan wujud ular hidup menjadi ular, sehingga warga ketakutan khususnya yang mengarak Ogoh-ogoh.

Sejak saat itu muncul sebuah wangsit dari Ida Batara melalui para penari Baris Cina yang kerasukan, bahwa warga Renon tidak boleh membuat Ogoh-ogoh, karena Ida Batara tidak berkenan di wilayah desa Renon terdapat patung Rakshasa. Hingga kini di desa tersebut tidaklah terdapat hiasan Ogoh-ogoh.

Sujmber: Balisaja
Foto: Istimewa