Heboh Orang Pendek Sumatera, Ini Rangkuman Kesaksian Penampakannya

27-03-2017 02:03:35 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Belakangan sosok orang pendek yang terekam komunitas motorcros yang sedang melintas di belantara Hutan Aceh sedang ramai dibicarakan. Sosok itu terekam oleh kamera para pengemar motocross di Aceh. Makhluk itu tidak berpakaian dan tengah membawa kayu. Sebenarnya siapakah sosok mungil nan gesit tersebut?

Belum diketahui secara pasti siapa atau lebih tepatnya apa, sebenarnya makhluk tersebut. Tapi, bagi masyarakat Aceh di pedesaan, keberadaan makhluk yang dikenal dengan Suku Mante ini bak makhluk bunian antara ada dan tiada.

Sementara itu, penampakan makhluk sejenis ini tidak hanya terjadi di Aceh saja, di pulau Sumatera umumnya cerita urban tentang Orang Pendek telah ada sejak tahun 1900-an.

Jakartavenue coba merangkum kesaksian yang mengisahkan penampakan makhluk tersebut dari tahun ke tahun. Simak rangkuman dibawah ini:

 Awal Abad 19

Pembicaraan mengenai 'orang pendek' menghangat lagi dikalangan ilmuwan sejak awal abad 20. Pada tanggal 21 Agustus 1915, saat Edward Jacobson menemukan sekumpulan jejak misterius di tepi danau Bento, di tenggara gunung Kerinci, Propinsi Jambi. Pemandunya yang bernama Mat Getoep mengatakan bahwa jejak sepanjang 5 inci tersebut adalah milik Orang Pendek.

Pada Desember 1917, seorang manajer perkebunan bernama Oostingh berjumpa dengan Orang Pendek di sebuah hutan dekat Bukit Kaba. Ketika makhluk itu melihatnya, ia bangkit berdiri lalu dengan tenang berjalan beberapa meter dan kemudian naik ke pohon dan menghilang.

Seorang Belanda yang bernama Van Herwaarden menceritakan bahwa ia melihat Orang Pendek di sebuah pohon di utara Palembang pada Oktober 1923. Pertama, Herwaarden bermaksudmengeksekusi dengan menembaknya namun kemudian ia melihat makhluk itu sangat mirip dengan manusia sehingga ia memutuskan untuk membiarkannya.

 Menurut dia, bulu di bagian depan tubuh lebih terang dibanding di bagian belakang dengan tinggi badan sekitar 150 sentimeter. Makhluk itu lari dari hadapannya dengan menggunakan kedua kakinya. Pengalamannya dipublikasikan di majalah Tropical Nature no.13 yang terbit tahun 1924.

Tahun 1980-an

 

Akhirnya di tahun 1980-an seorang wanita asal Inggris, Debbie Martyr, melakukan penelitian terkait Orang Pendek di Sumatera.

Debbie pertama kali mengunjungi Sumatera pada bulan Juli 1989 sebagai seorang penulis. Bersama pemandunya, Jamruddin, Debbie berkemah di lereng  Gunung Kerinci di mana dia bisa melihat badak Sumatera dan harimau Sumatera. Jamruddin mengisahkan kepada Debbie bahwa dirinya pernah dua kali melihat Orang Pendek di Gunung Tujuh Kerinci. Saat itu Debbie masih belum percaya pada ucapan Jamruddin tentang Orang Pendek, sampai akhirnya di tahun 1990, dirinya melihat sendiri penampakan Orang Pendek Sumatera.

"Saya melihatnya di pertengahan September, Saya telah di sini selama empat bulan. Pada waktu itu saya 90 % yakin bahwa ada sesuatu di sini, itu semua bukan hanya cerita turun-temurun saja. Ketika aku melihatnya, itu sama sekali tidak terlihat seperti binatang yang pernah aku baca di buku dan film yang pernah aku lihat atau kebun binatang yang pernah saya kunjungi. Saya terkejut melihat dia berjalan agak seperti seorang manusia," tulisnya.

"Itu relatif sangat kecil, namun sangat kuat. Jika Anda melihat itu sebagai hewan maka dia akan terlihat menyerupai siamang atau owa ungko. Ini tidak terlihat seperti orang utan, proporsi mereka sangat berbeda. Tubuh mereka berbentuk seperti seorang petinju, dengan tubuh bagian atas yang besar. Warna bulu mereka terlihat cantik, bergerak dengan dua kaki dan berusaha agar tidak terlihat," tambahnya.

Tahun 2013

Hampir setiap hari para polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, berjalan kaki menyusuri hutan perawan di wilayah seluas 125 ribu hektar. Itu tugas rutin, berpatroli mengawasi tiga area besar taman konservasi, Way Kanan, Way Bungur, dan Kuala Penet.  Setiap area itu dibagi lagi menjadi empat resor.

Mereka menjaga taman nasional dari pembalakan liar, atau perburuan liar. Hutan di Way Kambas adalah tempat konservasi badak, harimau sumatera, dan juga gajah. Di sana bahkan ada sekolah gajah pertama di Indonesia.Sekali patroli, para polisi hutan itu bisa berjalan kaki selama dua pekan, atau bahkan sebulan.

Tapi satu regu patroli di resor Rawa Bunder, Way Kanan, menemukan hal mengejutkan pada Ahad, 17 Maret 2013 lalu. Di petang hari itu, di saat tubuh mulai lelah, tujuh polisi hutan terperangah: ada sekelompok makhluk mirip manusia namun ukurannya lebih kecil melintas di rawa.

Mereka sontak terkesiap. Para polisi hutan dan kelompok “orang pendek” itu berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 30 meter.  Kaget, dan tak menyangka bersua makhluk aneh, para polisi hutan itu terpacak diam. Hening. Sekejap kemudian, gerombolan “orang pendek” itu berlari masuk ke dalam rimbun hutan. Hilang.

Barulah para polisi hutan sadar, seharusnya mereka mengabadikan gambar “orang-orang pendek” itu. Mereka hanya bisa mengingat “orang-orang pendek” itu bertelanjang, sebagian memegang kayu berbentuk tombak, dan bahkan ada yang menggendong bayi. Diduga saat itu, mereka sedang mencari ikan atau mencari air minum.

Penasaran dengan apa yang mereka lihat, tiga hari kemudian, grup itu kembali berpatroli di tempat sama. Tim sengaja memilih waktu persis saat mereka bertemu makhluk aneh, menjelang malam. Dan betul, “orang-orang pendek” yang dihitung lebih dari sepuluh orang itu terlihat lagi. Suasana dan lokasinya sama saat petugas patroli melihat yang pertama dan yang kedua. Namun, lagi-lagi, polisi kalah cepat memotret mereka.

Penulis : Zacrafter
Foto : Istimewa