Penyiar Radio Jadi Komedian dan Sekarang Sutradara, Berikut Tentang Ernest Prakasa

26-03-2017 10:03:42 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Ernest Prakasa yang lahir di Jakarta, 29 Januari 1982, umur 35 tahun adalah seorang komedian tunggal Indonesia. Ia dikenal sejak meraih peringkat ketiga dalam acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) pada 2011 dan juga dikenal sebagai seorang komedian Tionghoa-Indonesia yang sering menjadikan kehidupan etnisnya sebagai materi komedi tunggal.

Awal karier Ernest adalah di industri musik yakni dengan bergabung bersama Universal Music. Sebelumnya juga pernah menjadi penyiar radio kemudian Ia melanjutkan kiprahnya di Sony Music. Nyaris enam tahun berkutat di industri musik, Ernest mendaftarkan diri ke program televisi Kompas TV, yakni Stand Up Comedy Indonesia. Ia berhasil lolos audisi dan terpilih menjadi satu dari 13 finalis dari seluruh Indonesia, dan meraih peringkat ketiga dalam kompetisi tersebut.

Ernest akhirnya memutuskan diri untuk terjun dan menekuni profesi pelawak tunggal secara penuh. Bersama Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Isman H. Suryaman dan Ryan Adriandhy, Ernest mendirikan Stand Up Indo, sebuah komunitas pelawak tunggal pertama di Indonesia, yang hingga kini telah memiliki sub-komunitas di lebih dari 15 provinsi, dan dianggap sebagai salah satu perintis budaya komedi tunggal di Indonesia. Ernest pun diangkat sebagai Ketua pertama dari Stand Up Indo hingga Juni 2013.

Ernest telah melakukan sebuah tur komedi tunggal pada 2012, dan ia merupakan komedian pertama Indonesia yang melakukan hal itu. Tur tersebut dinamai Merem Melek, yang menjelajahi 11 kota dari Bandung, Semarang, Solo, Denpasar, Malang, Surabaya, Makassar, Kendari, Samarinda, hingga Palangkaraya, dan ditutup di Gedung Kesenian Jakarta pada 10 Juli 2012. Ia juga pernah menggelar sebuah pertunjukan komedi tunggal khusus bersama para komedian dari etnis Tionghoa-Indonesia, berjudul Ernest Prakasa & The Oriental Bandits yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta pada 9 Februari 2013, sehari sebelum perayaan Imlek.

Di bulan November 2013, ia melakukan tur keduanya yang diberi judul Illucinati, menyambangi 17 kota yakni Makassar, Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Banda Aceh, Semarang, Solo, Jogjakarta, Padang, Depok, Bandung, Bogor, Malang, Sidoarjo, Surabaya, Denpasar, dan ditutup kembali di Gedung Kesenian Jakarta pada tanggal 25 Januari 2014. Acara puncak ini menorehkan rekor sebagai komedi tunggal spesial pertama di Indonesia yang digelar sebanyak tiga kali pertunjukan dalam satu hari.

Ia juga turut membintangi film yang membuatnya diperhitungkan sebagai actor. Tak berselang lama, ia juga menjajaki profesi di balik layar dengan menjadi penulis skenario dan sutradara lewat debutnya Ngenest. Film Ngenest diadaptasi dari novel berjudul sama. Ketika diangkat ke film, ia tidak hanya duduk sebagai sutradara, tapi juga turut menjadi penulis skenario, sekaligus pemeran utama. Totalitasnya mencuri perhatian. Pada ajang Indonesia Box Office Movie Awards 2016 dan Festival Film Bandung 2016 lalu, Ernest memenangkan penghargaan sebagai Penulis Skenario Terbaik.

Pria berusia 34 tahun itu mesti berbesar hati hanya menjadi nominasi ketika dalam ajang Festival Film Indonesia 2016, ia dikalahkan Salman Aristo dan Riri Riza lewat film Athirah dalam kategori Penulis Skenario Adaptasi Terbaik. Meski demikian, menjelang akhir tahun 2016, penghargaan dalam kategori serupa direngkuh Ernest kembali lewat ajang Piala Maya yang diselenggarakan pada Minggu malam, di Grand Kemang Jakarta. Tak hanya meraih penghargaan sebagai Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, Ernest juga dinobatkan sebagai Debut Sutradara Berbakat.

 

Penulis : Chintya
Foto : Istimewa