Jejak Sejarah Legenda Krakatau

24-03-2017 02:03:55 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Tak ada yang aneh pada pagi itu, Matahari bersinar dengan cerah, hembusan angin pun menyapa ceria. Tetapi siapa sangka, pagi 27 Agustus 1883, pukul 10.02 keadaan sontak berubah, gunung Krakatau yang berdiri angkuh di Selat Sunda meletus.

Untuk beberapa saat keadaan menjelma tak terbayangkan, pagi cerah berubah gelap gulita, hembusan angin tak lagi ceria, berganti menjadi badai yang datang bersama dengan air dan debu.

Sejarah mencatat letusan Gunung krakatau merupakan letusan gunung berapi terdasyat yang pernah terjadi dimuka Bumi. Dentumannya terdengar sampai di Australia, batu dan abu yang dilontarkan mencapai ketingian 80 km.

Konon, abu yang melayang-melayang itu mempengaruhi suhu Bumi sampai dua tahun lamanya. Diperkirakan besarnya letusan Gunung Krakatau saat itu mencapai 21.428 kali bom atom yang diledakkan di atas Los Alamos tahun 1945.

Tidak hanya dari catatan sejarah, dari jejak yang tersisa, dasyatnya letusan itu masih tergambar dengan jelas.

Krakatau yang sebelum meletus merupakan gunung berapi besar dengan ketinggian 2000 mdpl, yang dasarnya menjulang sampai ke dasar samudra, terbelah menjadi tiga pulau kecil ditengah Selat Sunda.

Tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung. kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau

Kini setelah lebih dari 100 tahun, Gunung Krakatau menjelma menjadi objek wisata eksotis. Walau masih menyisakan misteri, Anak Krakatau ramai dikunjungi wisatawan. Setidaknya ada tiga jalur utama yang bisa ditempuh untuk mencapai Krkatau yakni, lewat Labuan dan Carita di Banten atau via Lampung.

Untuk mencapainya, wisatawan harus menyebrangi Selat Sunda. Dari ketiga jalur utama ini, banyak tempat yang menyediakan speed boat atau long boat. Dari Carita misalnya, beberapa tempat yang bekerja sama dengan hotel setempat menyediakan jasa penyewaan kapal cepat ini.

Speed boat yang berkapasitas 4-6 orang ini disewakan dengan biaya Rp 3 juta-an, sedangkan untuk long boat yang berkapasitas 8-10 orang dibandrol Rp 5 juta-an.

Untuk rombongan yang mencapai 20 orang bisa menyewa kapal nelayan dari Labuan, tepatnya di Pangkalan Angkatan Laut Labuan. Kapal nelayan ini bisa memuat sampai dengan 30 orang lebih, tetapi tentunya biaya sewa berbeda.

Plesiran Krakatau bisa dilakukan dalam satu hari perjalanan, wisatawan langsung menuju Pulau Rakata Kecil untuk mendaki anak Krakatau. Setelah melakukan pendakian yang hanya memakan waktu tak lebih dari satu jam itu, para wisatawan biasanya mengunjungi Rakata Besar atau Pulau Sertung untuk relaksasi atau melakukan snorkling.

Tetapi tak sedikit dari mereka yang memilih menginap. Dengan perlengkapan outdoor yang tepat, bertenda di tiga pulau ini merupakan kegiatan yang mengasyikan, kalau beruntung bisa menyaksikan muntahan lava panas dari mulut Kawah Krakatau.

Tidak seperti letusan yang pernah terjadi di masa silam, dalam jarak tertentu pijar lava ini cukup aman dan menjadi pemandangan spektakuler yang tidak bakal terlupa.

 

Penulis : Zacrafter
Foto : Istimewa