Catatan Perjalanan; Menengok Bekantan Tampan di Jantung Borneo, Bagian Kedua

18-03-2017 03:03:48 By Ganest Afliant
img

Feeding, Daya Tarik Tj Puting

Karena termasuk kedalam tempat rehabilitasi, orang utan yang berada di Tanjung Harapan masih digolongkan setengah liar, sehingga masih bergantung kepada manusia untuk makannya. Nah, kegiatan memberi makan inilah yang menjadi daya tarik lain dari Tanjung Puting.

“Kita menyebutnya feeding dilaksanakan setiap jam 3 sore, nanti orang utan dengan sendirinya akan datang ke tempat feeding itu,” terang Yusuf sambil berjalan menuju tempat yang dimaksud. Sekitar 750 meter masuk ke dalam hutan dari pusat informasi Tanjung Harapan. Di sini ada sebuah panggung yang berfungsi sebagai tempat memberi makan orangutan. Makanan diletakkan di atas panggung untuk menghindari kompetisi dengan hewan lain.

“Biasanya bulan Januari sampai Maret, di bulan itu jarang ada orang utan yang mendatangi tempat feeding karena di hutan makanan lagi melimpah, bahkan sampai dicari masuk kedalam hutan pun akan sangat sulit menemukan orang utan,” kata Yusuf. 

 Beruntung saat menyaksikan feeding tampak hampir sepuluh ekor orang utan jantan dan betina yang sedang menikmati makanan ini.  Saat feeding berlangsung juga dapat disaksikan bagaimana dominasi jantan dewasa yang terlihat lebih garang. Setiap kali pejantan memenangkan duel dengan pejantan lainnya, hormon akan membentuk lapisan tebal di pelipis, menumbuhkan jenggot, mempertebal bulu dan membuat bulu berwarna lebih kemerahan.

Puas menyaksikan feeding kami melanjutkan perjalanan ke Camp 2, Pondok Tanggui untuk bermalam. Untuk sampai di Pondok Tanggui butuh waktu sekitar 1-2 jam. Sebenarnya 100 meter dari Tanjung Harapan ada desa Sei Sekonyer, di desa ini ada penginapan dan dikelola oleh warga setempat, tapi kami memutuskan untuk langsung menuju Pondok Tanggui dan bermalam di klotok.

Bekantan Tampan

Tak kalah dengan aksi feeding di Tanjung Harapan, perjalanan ke Pondok Tanggui dan Camp Leakey pada esok paginya juga menawarkan sensasi lain. Karena saat menuju Pondok Tanggui waktu sudah memasuki sore hari, sementara saat ke Camp Leakey, kami berangkat pagi-pagi sekali esok harinya.

Sengaja kami mengambil waktu sore dan pagi hari, karena menurut Yusuf di waktu itulah saat yang tepat untuk melihat primata unik lain penghuni Tanjung Puting, yakni bekantan. “Bekantan tinggal berkelompok di atas pohon, terutama di sisi sungai. Siang hari mereka mencari makan ke dalam hutan. Sore dan pagi hari adalah saat yang tepat untuk mengamati bekantan, mereka mudah ditemukan di sisi sungai sedang istirahat”

Orang utan disebut primata unik karena orang utan satu-satunya kera besar yang hidup di Asia dan dikatakan mempunyai DNA 90% mirip manusia. Komposisi tubuh seperti manusia, berbulu lebat, berwarna coklat, bermulut moncong, berjalan lambat. Sedangkan bekantan mempunyai ciri fisik jantannya berhidung panjang dan besar, dan semakin besar hidungnya semakin disukai betina. “Semakin besar hidungnya semakin tampan,” canda Yusuf.

Melihat kawanan bekantan dan orang utan di habitat aslinya telah menghapus rasa penasaran saya. Sebulan sebelum berangkat selalu dibayangi oleh gambaran primata-primata unik yang namanya telah dikenal di seluruh dunia. (*)

Penulis: zarcrafter
Foto: zarcrafter