Catatan Perjalanan; Menengok  Bekatan Tampan di Jantung Borneo

17-03-2017 08:03:11 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Di tepi Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah telah menunggu 5 buah kapal kayu - masyarakat Kumai menamainya Klotok. Klotok inilah yang akan mengantar Kami rombongan dari Pecinta Alam SMA 3, Jakarta menembus jantung Borneo yakni ke Taman Nasional  (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Taman Nasional yang akan memberikan gambaran jelas terhadap rasa penasaran saya akan kehidupan primata –primata yang selama ini hanya bisa dilihat di kebun binatang.

Waktu menunjukan pukul 11 siang, tapi sinar matahari seakan telah berada pada puncaknya, panas sekali. Pemandu perjalanan telah menunggu di tepi pelabuhan Kumai. Namanya Yusuf, pemuda ramah asli Kumai. Sebelum berangkat, Yusuf memperkenalkan diri dan menjelaskan singkat perihal perjalanan ke Taman Nasional Tanjung Puting.

“Tanjung Puting merupakan rumah bagi satwa liar yang membuat takjub dunia, ada primata seperti monyet ekor panjang, bekantan dan yang paling terkenal adalah orang utan. Selain itu diketemui juga burung dan hewan air seperti buaya air tawar. Tapi harap bersabar, untuk sampai disana butuh waktu 2 sampai 3 jam naik klotok,” terang Yusuf singkat. Tak lama kemudian mesin klotok berderu.

Taman Nasional Tanjung Puting hanya bisa dicapai dengan klotok, karena akses taman nasional yang luasnya  415.040 ha cuma melalui sungai. Dan, klotok inilah satu-satunya moda transportasi. Untuk mencapai TN Tanjung Puting, dari Pelabuhan Kumai, klotok akan beranjak menuju sungai Sekonyer, gerbang utama TN Tanjung Puting.

Taman Nasional yang diresmikan pada tahun 1982 ini memiliki tiga camp yang menjadi tujuan. Pertama adalah Tanjung Harapan, kedua Pondok Tanggui dan ketiga adalah Camp Leakey. Jarak antara kedua camp ke camp lumayan jauh, sekitar 2 jam perjalanan dengan klotok yang memiliki kecepatan kira-kira 2 knot. Tujuan pertama saya adalah Tanjung Harapan.

Tak lama kemudian sampailah saya di Tanjung Harapan, di dermaga telah terlihat beberapa klotok yang terlebih dahulu tiba. Berjarak sekitar 15 kilometer dari muara sungai Sekonyer. Tanjung Harapan adalah titik awal untuk menyaksikan orang utan penghuni Tanjung Puting yang menjadi perhatian kami dan turis asing yang telah memenuhi dermaga. Tanjung Harapan dan kedua camp lainnya merupakan tempat rehabilitasi bagi orang utan sebelum kembali dilepas liarkan.

Penulis: zarcrafter
Foto: zarcrafter