Kulintang, Alat Musik Nusantara Bernilai Seni TInggi

09-03-2017 02:03:09 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Dikenal sebagai bangsa paling banyak suku dan kebudayaan, dari seni musik, Indonesia juga dikenal kaya akan alat musik tradisional yang menjadi ciri khas masing-masing wilayah dan suku, sebut saja Gamelan, Sasando Rote, Angklung, Seruling Bambu, Tifa, dll.

 Kali ini kami akan mengajak JV Readers untuk melihat sejarah salah satu musik tradisonal Indonesia yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara yang bernama "Kulintang". Apa sih Kulintang itu, ? Kulintang adalah salah satu alat musik tradisional masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara. Alat musik ini terbuat dari kayu khusus yang disusun dan dimainkan dengan cara dipukul. Sekilas Kulintang ini hampir sama dengan alat musik Gambang dari Jawa, namun yang membedakan adalah nada yang dihasilkan lebih lengkap dan cara memainkannya sedikit berbeda.

 Alat musik Kulintang awalnya hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakan dan disusun berjejer diatas kedua kaki pemainnya. Kemudian dikembangkan menggunakan alas yang terbuat dari dua batang pisang. Kulintang mulai menggunakan peti resonator sejak Pangeran Diponegoro berada di Minahasa. Konon pada saat itu peralatan Gamelan juga dibawa oleh rombongannya. Sesudah perang dunia ke 2, alat musik Kulintang mulai dikembangkan lagi dari segi nada yang dihasilkan lebih mengarah ke susunan nada musik universal.

 Kayu yang dipakai untuk membuat Kulintang adalah kayu lokal yang ringan namun kuat seperti kayu Telur (Alstonia sp),kayu Wenuang (Octomeles Sumatrana Miq),kayu Cempaka (Elmerrillia Tsiampaca),kayu Waru (Hibiscus Tiliaceus), dan sejenisnya yang mempunyai konstruksi serat paralel. ama Kulintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan "Mari kita lakukan TONG TING TANG" adalah: " Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata Kulintang.

 Dahulu Kulintang dipakai dalam upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan pemujaan arwah para leluhur. Namun masuknya agama kristen di Minahasa membuat alat musik ini tidak lagi digunakan dalam ritual adat tersebut. Kulintang mulai berkembang sesudah Perang Dunia II dan muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada Kulintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat “string” seperti gitar, ukulele dan stringbas.

Tahun 1954 Kulintang sudah dibuat  2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik Kulintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan. Saat ini  Kulintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh.

Penulis : Richard Leonard