Setan Jawa Garin Nugroho Jadi Karya Utama Dalam Asia Topa di Australia

26-02-2017 02:02:05 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Sutradara kenamaan asal Indonesia, Garin Nugroho, yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan Setan Jawa, sebuah film bisu hitam putih terbaru yang kental akan mitologi Jawa. Film ini diiringi langsung dengan orkestra gamelan Indonesia karya Rahayu Supanggah yang dimainkan 20 pengrawit (pemusik gamelan) dan berkolaborasi dengan 20 orang musisi Melbourne Symphony Orchestra, orkestra simfoni tertua di Australia dengan konduktor Iain GrandageSetan Jawa menjadi karya utama yang ditampilkan dalam Asia Pacific Triennial of Performing Arts (Asia TOPA) di Arts Centre Melbourne’s Hamer Hall, Jumat (24/2/17). Setan Jawa karya Garin Nugroho ini membangkitkan mitologi Jawa melalui genre horor kontemporer dengan mengambil inspirasi dari film bisu klasik, Nosferatu oleh Friedrich Wilhelm Murnau. Setan Jawa secara dramatis menekankan mistisme dan romantisme dari kisah cinta dan pengorbanan yang diangkat oleh Garin Nugroho.

“Ini adalah pertunjukan yang menggabungkan beragam seni seperti visual arts, teater, tari, fashion, hingga musik yang saling melengkapi. Menariknya dari tradisi film bisu, Setan Jawa ini bisa berbeda-beda disesuaikan dengan musik yang mengiringinya, seperti di Australia kita berkolaborasi dengan orkestra, nanti di negara lain bisa dengan musik rock atau elektrik. Jadi memang dibutuhkan karya-karya dengan kecenderungan baru, multidisiplin, dan kemudian bisa mengembangkan jenis-jenis pasar yang berbeda dan bisa bekerja dalam bentuk-bentuk yang lain sehingga memiliki efek yang besar dan bisa dikenang orang dalam waktu yang lama,” ujar Garin Nugroho, Sutradara dan Produser Setan Jawa.

Pementasan di Melbourne, Australia ini merupakan world premier dari pementasan Setan Jawa yang djadwalkan juga akan ditampilkan di beberapa negara lain. Tahun 2017 ini, Setan Jawa juga akan dipentaskan di ARTJOG Yogyakarta, Indonesia (Mei); Amsterdam, Belanda (Juni); Singapura (Juli), dan London, Inggris (November).

Setan Jawa ini merupakan kerjasama Garin Nugroho dengan Bakti Budaya Djarum Foundation yang menghabiskan sekitar 2 tahun untuk proses produksinya. Orkestra gamelan yang diciptakan oleh Rahayu Supanggah sebagai pengiring film bisu ini mampu membawa sentuhan tradisional dan menghasilkan pertunjukan modern yang memiliki jiwa dan nilai-nilai estetika yang bersumber dari kekayaan budaya Indonesia. Kesuksesan Setan Jawa dalam pementasan di Jakarta pada September lalu dan di Melbourne ini merupakan kontribusi banyak pihak yang memberikan hati dan tenaga demi perkembangan dan kemajuan seni pertunjukan Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Setan Jawa merupakan salah satu karya paling ambisius yang dibuat oleh seniman Indonesia untuk panggung internasional, sebuah kolaborasi antara para legenda hidup Garin Nugroho dan Rahayu Supanggah yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan tokoh-tokoh seperti Peter Sellers, Robert Wilson dan Kronos Quartet. Film karya Garin ini sangat memesona, dengan gaya visual yang kaya yang menggambarkan tema mistisisme, realisme magis dan sensualitas Jawa yang ia sukai dengan melirik kepada genre horor. Musik latar belakang film yang diisi secara langsung memadukan dengan halus suara gamelan Jawa kontemporer dengan gaya penulisan orkestra teater dari Iain Grandage. Setan Jawa telah menjadi sebuah perjalanan artistik yang berani bagi MSO dan Arts Center Melbourne dan kami sangat senang dapat mempersembahkan pemutaran perdana karya ini untuk Asia TOPA,” jelas Kate Ben Tovim, Produser Kreatif Setan Jawa dan Associate Director Arts Centre Melbourne’s Asia TOPA.

Setan Jawa bercerita tentang cinta dan tragedi kemanusiaan dengan latar waktu awal abad ke-20 yang ditandai lahirnya era industri yang menyisakan kemiskinan di tanah Jawa. Seiring dengan meluasnya kemiskinan, maka bertumbuh subur cara-cara mistik untuk meraih kekayaan, termasuk Pesugihan Kandang Bubrah. Pesugihan ini adalah cara mistik untuk mendapat kekayaan dari iblis, namun harus membayar dengan berubah menjadi tiang penyangga rumah saat ajalnya tiba.

Adalah Setio (diperankan Heru Purwanto), seorang pemuda dari desa miskin jatuh cinta dengan Asih (diperankan Asmara Abigail), seorang putri bangsawan Jawa. Lamaran yang ditolak membuat Setio mencari keberuntungan melalui kesepakatan dengan iblis (diperankan Luluk Ari) yang dikenal sebagai ‘Pesugihan Kandang Bubrah’ untuk mencari kekayaan dan nantinya dapat melamar Asih. Setio akhirnya menjadi kaya dan kawin dengan Asih, mereka hidup bahagia dalam rumah Jawa yang megah. Asih kemudian mengetahui bahwa suaminya menjalani laku pesugihan kandang bubrah akhirnya menemui setan pesugihan dan meminta pengampunan pada setan agar suaminya tidak menjadi tiang penyangga rumah pada saat kematiannya.