Nyanyikan Puisi, Ari Reda Hadirkan Warna Baru Dalam Seni

21-02-2017 10:02:11 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Sudah lebih dari tiga dekade Ari Malibu dan Reda Gaudiamo menemukan cara yang unik dalam menampilkan puisi, yaitu dengan cara menyanyikannya. Duet yang lebih dikenal dengan Ari Reda ini akan menghibur para penikmat seni dalam acara bertajuk Alunan Puisi Indonesia oleh Ari Reda di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, hari ini.

Selama sekitar 60 menit, penikmat seni di Galeri Indonesia Kaya dihanyutkan suara merdu Reda dan petikan gitar Ari. Melalui kesederhanaan yang ditampilkan ketika bernyanyi, Ari Reda mengembalikan pada hal mendasar, yakni suara dan penghayatan yang begitu dalamnya. Ari Reda mampu membuat seakan-akan puisi dan para penyairnya tampak hadir dalam bayangan kita.

Di hadapan penikmat seni, Ari Reda menampilkan beberapa karya penyair Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono (Pada Suatu Hari Nanti, Kuhentikan Hujan, Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden gate di San Fransisco, Nocturno, Hujan Bulan Juni, Ketika Jari-Jari Terbuka , Di Restoran, Akulah Si Telaga, dan Aku Ingin), Goenawan Mohamad ( Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi, Z, Surat Cinta), Toto Sudarto Bachtiar (Gadis Peminta-minta), Abdul Hakim WM (Menunggu Kemarau), Mozasa (Kupu-Kupu).

“Lebih dari 30 tahun Ari Reda memberikan kontribusi dunia seni Indonesia, mereka mengkombinasikan sastra dan musik dalam harmonisasi yang menghanyutkan. Mereka mampu mengubah bait-bait puisi penyair Indonesia menjadi lantunan lagu indah dan memberikan warna yang berbeda dalam menikmati puisi,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Ari Reda telah berhasil menyulap karya banyak penyair Indonesia, antara lain Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Ags. Arya Dipayana, Toto Sudarto Bachtiar, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Emha Ainun Nadjib, hingga Abdul Hadi W.M. Larik-larik pusis para penyair ini juga mewarnai album-album Ari Reda.

Album pertama mereka, Becoming Dew, diluncurkan pada tahun 2007 yang berisi 10 lagu dari puisi Sapardi Djoko Damono. Album kedua mereka, Ari Reda Menyanyikan Puisi diluncurkan pada akhir Agustus 2015, berisi nyanyian puisi dari karya-karya penyair Indonesia: Amir Hamzah, Mozasa, Abdul Hadi WM, Gunawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, dan Toto Sudarto Bachtiar.

“Sebelum mengubah puisi menjadi lagu, kami biasanya membaca dan mencoba merasai setiap kata kemudian merangkai melodi. Untuk dijadikan lagu, kami memilih puisi yang berbicara kepada kami karena hal ini bergantung pada rasa. Strukturnya juga harus nyambung, seperti misalnya Hujan Bulan Juni. Kami pikir itu memang dibuat untuk lagu karena tiga bait panjang dan jumlah katanya sama. Sungguh menyenangkan tadi melihat penikmat seni yang hadir menyaksikan kami di sini, semoga Galeri Indonesia Kaya tetap menjadi telaga bagi para pecinta seni Indonesia,” ujar Reda.