Melihat Sejarah Seni Melukis di Atas Air (EBRU)

16-02-2017 02:02:09 By Addo Richard
img

JakartaVenue | Seni lukis adalah salah satu cabang dari seni rupa. Dengan dasar pengertian yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari menggambar.  Melukis adalah kegiatan mengolah medium dua dimensi atau permukaan dari objek tiga dimensi untuk mendapat kesan tertentu. Medium lukisan bisa berbentuk apa saja, seperti kanvas, kertas, papan, dan bahkan film di dalam fotografi bisa dianggap sebagai media lukisan. Alat yang digunakan juga bisa bermacam-macam, dengan syarat bisa memberikan imaji tertentu kepada media yang digunakan.

Seiring perkembangan zaman, seni melukis pun berinovasi, salah satunya EBRU atau seni melukis diatas air. Ebru adalah seni membuat pola-pola berwarna dengan cara memercikkan dan menyapukan cat warna ke atas air yang berminyak dan kemudian memindahkan pola berwarna ini ke atas kertas. Seni melukis ini mulai diperkenalkan pada abad ke-13 di Turki dan menyebar ke Cina, India, Persia, dan Anatolia.

Ebru, kata dalam bahasa Turki yang artinya “awan” atau “berawan”, berasal dari kata “ebre”, bahasa Asia Tengah, yang artinya bahan berbarik-barik atau kertas.
Seni tersebut bisa jadi berhulu di China karena suatu tulisan di zaman dinasti Tang di China (618-907 masehi) menyebut tentang proses mewarnai kertas lewat air dengan lima warna. Jalan Sutra membuat seni tersebut menjalar ke Iran dan dinamai “Ebru”. Seni lukis itu digunakan untuk mewarnai sampul naskah maupun kitab dan menyebar ke Anatolia, Turki bagian Asia sejak pertengahan abad ke-15 Ebru dikenal sebagai seni Turki, yaitu membuat corak pada kertas.

Zaman dahulu, ebru digunakan oleh Seljuk (istilah untuk orang zaman dinasti Turki dahulu) dan para kaligrapher Ottoman untuk menghiasi buku-buku, surat perintah kerajaan, surat kerajaan dan dokumen-dokumen. Sampai tahun 1920-an, workshop ebru berada di Bezayit, salah satu distrik dari Istanbul dan menyediakan untuk pasar lokal maupun Eropa.