Pramoedya Ananta Toer, Sang Maestro Sastra Indonesia

08-02-2017 04:02:48 By Iwan Inkiriwang
img

JakartaVenue | Pada tanggal 6 Februari yang lalu, tepatnya 92 tahun yang lalu lahir seorang anak laki-laki dari pasangan seorang guru di Blora-Jawa Tengah. Dikutip dari wikipedia, anak yang diberi nama Pramoedya Ananta Mastoer yang kemudian terkenal sebagai Pramoedya Ananta Toer, seorang pengarang yang produktif dalam sejarah sastra di Indonesia. Disebut produktif karena semasa hidupnya Pramoedya sudah menghasilkan lebih dari 50 karya sastra yang diterjemah kedalam lebih dari 41 bahasa asing.

Pada masa perang kemerdekaan Pramoedya yang ikut berjuang ternyata juga aktif menulis cerpen dan buku, bahkan saat dirinya berada dalam penjara Belanda pada tahun 1948-1949. Namun pada tahun 1950 Pramoedya mendapat kesempatan ke Belanda dalam program pertukaran budaya. Pada saat kembali ke tanah air gaya menulisnya berubah hingga menciptakan fiksi antara dirinya dengan pemerintahan Soekarno.

Hingga memasuki usia senja Pramoedya banyak menulis kolom dan artikel pendek yang banyak mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Bahkan kecintaannya pada menulis ini dilakukan sampai menjelang akhir hayatnya. Banyak penghargaan yang sudah diterima Pramoedya sebagai seorang penulis seperti Ramon Magsaysay sebagai jurnalis sastra pada tahun1995 serta pernah menjadi nominator untuk meraih hadiah nobel sastra.

Diusianya yang ke-81 pada tahun 2006, tepatnya saat hari ulangtahun Pramoedya Teater Kecil di Taman Ismail Marzuki diadakan pameran khusus tentang sampul buku karya Pramoedya sebagai hadia ulang tahunnya. Pada tanggal 30 April 2006, Pramoedya wafat setelah sebelumnya sempat mendapat perawatan di RS Carolus. Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia dirumahnya yang dipenuhi bukan saja dari pihak keluarga, tetapi juga kerabat, teman-teman, dan para penggemarnya yang setia menggelar tahlilan dan doa mulai dari sebelum Pramoedya meninggal.