Tanjidor, Musik Betawi Yang Berasal Dari Portugis

31-01-2017 07:01:52 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Budaya Betawi saat ini seakan-akan tenggelam perlahan. Sangat jarang masyarakat yang mengenal tentang apa saja budaya masyarakat asli Jakarta itu, dan juga tidak banyak pula yang mempelajari apalagi melestarikan. Seperti kesenian Tanjidor, sangat jarang sekali kesenian Betawi ini ditampilkan dalam acara-acara baik di kampong ataupun apalagi acara besar.

Bila dahulu Kesenian Tanjidor mudah ditemui dalam acara pesta khitanan, pesta pernikahan bahkan acara pentas seni. Makin kesini seiring berkembangnya zaman hingga teknologi ikut merambah dunia seni yang berdampak anak-anak muda enggan untuk mempelajari bahkan memaninkan seni tradisional sampai akhirnya Kesenian Tanjidor kian terlupakan.

Demi mekestarikan kebudayaan asli Jakarta ini, JakartaVenue mengulas tentang Kesenian Tanjidor. Kata Tanjidor berasal dari kata bahasa Portugis yaitu Tangedoor, artinya adalah alat-alat musik berdawai (stringed instrument). Pada kenyataanya tidaklah sesuai dengan apa yang ada, sebab Tanjidor didominasi oleh alat-alat musik tiup, seperti klarinet (tiup), piston (tiup), trombon (tiup), saksofon tenor (tiup), saksofon bas (tiup), drum (membranofon), simbal (perkusi), dan side drums (tambur).

Tanjidor muncul pada masa penjajahan Hindia Belanda di abad ke-18, adalah salah satu jenis musik Betawi yang mendapat pengaruh kuat dari Eropa, dimainkan oleh 7 sampai 10 orang. Ernst Heinz, seorang ahli Musikologi Belanda yang mengadakan penelitian musik rakyat di pinggiran Kota Jakarta tahun 1973, berpendapat bahwa musik rakyat daerah pinggiran itu berasal dari budak belian yang ditugaskan main musik untuk majikannya.

Mula-mula pemain musik terdiri atas budak dan serdadu. Sesudah perbudakan dihapuskan, mereka digantikan pemusik bayaran. Tetapi yang jelas para pemusik itu orang Indonesia yang berasal dari berbagai daerah, diberi alat musik Eropa dan disuruh menghidangkan bermacam musik pada berbagai acara.

Pada mulanya mereka memainkan lagu-lagu Eropa karena harus mengiringi pesta dansa, polka, mars, lancier dan lagu-lagu parade. Lambat laun mereka juga mulai memainkan lagu-lagu dan irama khas Betawi. Instrumen yang kuat-kuat ini bisa dipakai turun-temurun. Setelah pemain tidak lagi menjadi bagian dalam rumah tangga orang Barat, lahirlah rombongan-rombongan amatir yang tetap menamakan diri "Tanjidor".