Di Jawa Barat Ada Tradisi Serentaun, Apa Itu?

28-01-2017 11:01:17 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue | Masyarakat Sunda di berbagai daerah di Jawa barat memiliki tradisi tahunan, Serentaun. Upacara adat panen padi masyarakat Sunda ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat agraris yang biasanya diramaikan ribuan masyarakat setempat. Kini tradisi yang digelar beberapa desa adat Sunda ini menjadi atraksi yang mampu menarik wisatawan, baik wistawan lokal maupun mancanegara.

Istilah Serentaun berasal dari Bahasa Sunda. Seren yang artinya serah, seserahan, atau menyerahkan, dan taun yang berarti tahun. Jadi Serentaun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya. 

Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat peladang Sunda, serentaun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala hasil pertanian yang diraih pada tahun ini, seraya berdoa agar hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang.

Beberapa desa adat yang menggelar Serentaun tiap tahunnya antara lain adalah Desa Cigugur, Kuningan; Desa Kasepuhan Banten Kidul, Desa Ciptagelar, Cisolok, Kabupaten Sukabumi; Desa adat Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kabupaten Bogor; Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya, serta  Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. 

Warga datang dengan membawa berbagai hasil bumi, khususnya padi sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Cigugur yang mayoritas petani terhadap karunia sang pencipta. Sebagaimana layaknya sesembahan musim panen, ornamen gabah serta hasil bumi mendominasi rangkaian acara.

Hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun itu lantas disimpan ke dalam lumbung atau dalam bahasa Sunda disebut leuit. Dan, masyarakat Sunda mengenal dua leuit; yaitu lumbung utama yang bisa disebut leuit sijimat, leuit ratna inten, atau leuit indung (lumbung utama). 

Sedangkan lumbung lainnya adalah leuit pangiring atau leuit leutik (lumbung kecil). Leuit indung digunakan sebagai sebagai tempat menyimpan padi ibu yang ditutupi kain putih dan pare bapak yang ditutupi kain hitam. Padi di kedua leuit itu untuk dijadikan bibit atau benih pada musim tanam yang akan datang. Leuit pangiring menjadi tempat menyimpan padi yang tidak tertampung di leuit indung.