Tips Mencari Pasangan Yang Ideal

17-01-2017 04:01:49 By Iwan Inkiriwang
img

JakartaVenue - Mencari pasangan hidup memang tidak semudah kita membalik telapak tangan, apalagi bila kita ingin serius hingga ke tahap pernikahan. Kalau meminjam bahasa Jawa, istilahnya “Ojo Kesusu” atau jangan terburu-buru. Biasanya mencari pasangan hidup didahului dengan pendekatan pada orang yang kita sukai, lalu berpacaran untuk lebih mengenal karakter dan sifat masing-masing. Namun dalam praktek biasanya menentukan pasangan banyak dipengaruhi oleh berbagai macam sisi penilaian, ada yang melihat dari bobot, bibit, dan bebet (istilah orang tua), suku, agama, dan lain sebagainya.

Tetapi selain hal-hal diatas ada satu lagi yang tim Jakartavenue ingin kemukakan untuk JV Readers ketahui juga, yaitu posisi atau urutan dalam keluarga. Sebagai contoh misalnya sebagai anak tunggal, sulung, tengah, atau bungsu dalam keluarga. Kira-kira JV Readers paham kan tentang posisi dalam keluarga ini? Artinya bagi seorang laki-laki yang merupakan anak sulung dalam keluarga sebaiknya mencari pasangan hidup (istri) yang statusnya anak bungsu dalam keluarga. Karena hal ini diyakini sangat ideal dengan sifat dan karakter keduanya yang bisa saling mengisi.

Berikut ini adalah beberapa sifat dan karakter antara anak sulung dan anak bungsu, yakni:

Tanggung jawab

Sebagai anak sulung dalam keluarga, biasanya mempunyai tanggung jawab yang besar baik menjaga dan mengurus adik. Sedangkan anak bungsu kebalikannya, karena selalu dijaga, diurusi, dan dimanja maka kurang mempunyai tanggung jawab.

Kemandirian

Selain bertanggung jawab anak sulung juga pasti mandiri, karena terbiasa diajari mengurus segala sesuatunya sendiri. Anak bungsu dengan ke-manjaannya  akan lebih tergantung kepada orang lain.

Mengambil keputusan

Karena selalu diberi tanggung jawab dan dituntut untuk mandiri, maka anak sulung akan lebih berani mengambil keputusan dibanding anak bungsu yang lebih sering tunduk/ikut dengan keputusan yang ada.

Tegas, terkadang egois

Inilah salah satu sifat buruk dari seorang anak sulung, yang karena tiga hal diatas bisa menjadi sangat tegas, keras bahkan terkadang egois dalam membuat keputusan tanpa mau beruding atau mendengar masukan lain. Nah disinilah peran anak bungsu terlihat, yaitu dengan sifat yang selalu tergantung, manja, dan terbiasa mengikuti apapun keputusan yang dibuat maka sifat mengalah dan tenangnya menjadi penetralisir keadaan (terkesan lebih menghindari konflik).

Dengan beberapa perbedaan sifat dan karakter diatas maka, hubungan yang dibangun keduanya akan terlihat bakal langgeng. Hal ini didasari juga pengalaman dari sebagian pasangan orang tua dahulu. Memang pada praktek bisa saja hal tersebut berbalik. Apalagi bila yang sulung adalah pihak perempuan, mungkin bisa lebih kacau lagi. Karena disatu sisi seorang lelaki mempunyai tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan imam (dalam muslim), namun disatu sisi pula seorang perempuan dengan status anak sulung akan dominan dengan karakter dan sifat seperti diatas.

Nah JV Readers, gak usah bingung juga karena semua itu sebenarnya kembali kepada komitmen bersama saat masa pengenalan/pacaran, sehingga apabila menikah nanti bisa saling mengisi dan melengkapi. Dan jangan takut untuk saling mengalah dan mengakui kekurangan masing-masing terhadap pasangan, sehingga rumah tangga bisa langgeng sampai tua.