Wah ‘Om Telolet Om’ Terancam Hilang, Kenapa?

23-12-2016 11:12:21 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue - Bunyi klakson khas bus pantura ini telah menjadi viral dan fenomenal karena tak tanggung-tanggung gaungnya mencapai dunia. Sejumlah selebritis, Dj dan musisi, pemain sepak bola, pembalap, beserta klubnya sampai dengan tokoh-tokoh ternama dunia terkena demam ‘Om Telolet Om’.

Awalnya mereka semua tidak tahu tentang apa itu ‘Om Telolet Om’, namun lantaran akun media social mereka dibanjiri komen frasa tersebut dan akhirnya mereka mengerti maksud dari jargon tersebut lalu tokoh-tokoh tersebut ikut menuliskan caption, bahkan tidak sedikit pula yang menirukannya.

Perlu diketahui bahwa ‘Om Telolet Om’ adalah kegiatan yang dilakukan sekelompok anak-anak di daerah Pantura atau tepatnya Jepara, Jawa Tengah. Mereka berkumpul dipinggir jalan meminta kepada pengemudi bus untuk membunyikan klakson berbunyi ‘telolet’, apabila sang pengemudi menurutinya kemudian anak-anak pun melompat kegirangan.

Namun nampaknya fenomena ‘Om Telolet Om’ akan segera berakhir atau akan dilarang, pasalnya kegiatan memburu klaksin tersebut dinilai mengganggu dan membahayakan. Karena viralnya fenomena tersebut banyak orang berburu klakson telolet atau melakukan ‘Om Telolet Om’, akhirnya banyak bus tertahan sekedar untuk membunyikan klakson hingga membuat jalan menjadi macet.

Bukan hanya bus yang membuat macet tetapi masyarakat yang kini sudah didominasi orang dewasa berburu telolet bukan lagi hanya menunggu di tepi jalan seperti yang dilakukan anak-anak sebelumnya, tetapi beberapa orang ada yang sampai turun ke jalan untuk berfoto dengan bus yang menuruti membunyikan klakson.

Polisi dalam hal ini Kasubdit Gakkum Dirlantas Polda Metro Jaya AKBP Budianto, menjelaskan penggunaan klakson telolet seperti pemasangan sirine pada kendaraan non operasional polisi.

“Masyarakat umum tak boleh menggunakan. Itu melanggar pasal 227 UU No. 22 Tahun 2009 tentang angkutan jalan," jelas Budianto seperti dikutik dari merdeka.com.

Menteri Perhubungan Budi Karya pun turut bicara mengenai perlunya meninjau kegiatan tersebut diperbolehkan atau tidak. Tapi disamping itu, dia juga memahami bahwa anak-anak melakukan hal tersebut demi kepuasan dan mencari hiburan.

"Satu sisi kita menghargai kepada masyarakat memulai satu kegemaran tertentu. Tapi kegemaran itu harus di lihat secara lengkap," kata Budi. Namun mantan Dirut PT Angkasa Pura II ini juga mengkhawatirkan keselamatan anak-anak yang menunggu di pinggir jalan menanti bus.

"Apakah kegemaran itu ada manfaatnya, apakah kegemaran itu membahayakan orang?" katanya.

"Nah kalau itu yang terjadi kita melihat bahwa ada kemungkinan itu bisa membahayakan diri sendiri atau pihak lain yang turut serta menonton," tutup Pria asal Palembang, Sumatera Selatan ini.