Sabdo Pandito Rakjat: Sebuah Keteguhan Hati

08-12-2016 11:12:35 By Rasyid Hadi
img

 Indonesia kita kembali mempertunjukan kesenian teater yang digawangi oleh Butet Kertarajasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto. Dalam pentas kali ini, Indonesia Kita menghadirkan lakon teater yang berjudul ‘Sabdo Pandito Rakjat’. Pementasan karya ke-22 tersebut, digelar kembali di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada hari jumat dan sabtu tanggal 2 dan 3 Desember 2016 lalu.


‘Sabdo Pandito Rakjat’ nerupakan pentas untuk mengenang Ki Nartosabdo, seorang maestro pedalangan wayang kulit dan karawitan. Karya – karya ki Nartosabdo yang sudah sangat terkenal dengan keinovasian-nya pun membuat presiden pertama Indonesia , Soekarno sangat mengaguminya. Dalang wayang kulit Ki Manteb Sudharsono juga mengakui pencapaian estetis Ki Martosabdo sebagai dalang terbaik yang pernah ada di Indonesia.


Disutradai oleh Sujiwo Tejo, lakon ‘Sabdo Pandito Rakjat’ menceritakan tentang seseorang dalang yang mencoba bersikap teguh dan kritis terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Ia ingin melakukan pembaharuan , sekaligus tak tergoda akan selera orang umum. Dalang tersebut menggambarkan bagai mana tetap menjaga akal sehat di tengah kegaduhan sosial yang di cemari oleh unsur politik negatif. Bagaikan kisah polemik antara Arjuna dan Karna, ia juga harus menghadapi pertentangan duaorang anaknya yang membuat pergolakan batin sang dalang.


Dalam pentas Indonesia Kita yang ke-22 ini dimeriahkan dari penampilan Sujiwo Tejo, Cak Lontong, Akbar, Didik Ninik Thowok, Happy Salma,Marwoto, Trio GAM (Gareng, Joned, Wisben), Butet Kartaredjasa, Sruti Respati, Bonita, Inayah Wahid, Gita Sinaga, Joe Kriwil.


Kisah ini diawali oleh satu keluarga yang anaknya sakit dan tak kunjung sembuh. Orang tua keluarga tersebut diperankan oleh Djajuk Ferianto, dan istrinya yang di perankan oleh Bonita. Sang ayah mendapatkan wangsit agar anaknya bisa kembali sembuh dengan menggelar pagelaran wayang yang di dalangi oleh dalang terkenal yang diperankan oleh Sudjiwo Tedjo, dengan tema ‘Karno Tanding’.


Keinginan sang ayah yang harus melakukan pagelaran wayang tersebut agar anaknya kembali sehat, terhadang dengan dana yang tak terbendung untuk mendatangkan dalang kondang tersebut. Sang dalang pun mendegar permohonan sang ayah untuk meminta dirinya agar membantu menggelar pagelaran tersebut dengan bayaran yang cuma cuma, dan sang dalang pun menyetujuinya. Ditengah ketulusan hati sang Dalang yang ingin membantu keluarga tersebut, dibenturkan oleh jeritan para anak buah Dalang tersebut yang tak kunjung mendapatkan bayaran dari sang dalang.


Trio GAM yang melakoni peran sebagai anak buah Sudjiwo Tedjo pun semakin gundah dengan keadaan ekonomi yang tidak membaik dari sang dalang. Diselah selah polemik itu, guyonan khas Gareng Rakasiwi, Wisben Antoro, dan Juga Joned menghadirkan gelak tawa para penonton.


Tidak habis di buat ketawa oleh banyolan dari Trio GAM, Inayah Wahid selaku putri dari presiden ke-4 GusDur pun ikut melemparkan banyolan dengan logat ngapak kahs banyuwangi dengan lakon sebagai tukang jamu yang menjual “Jamu Akal Sehat”.


Di tengah tengah ploemik, muncul Surya yang dilakonkan oleh pelawak senior Marwoto. Surya disini merupakan karakter antagonis yang menghasut agar para anak buah Dalang agar membelot dan keluar. Karena keteguhan hati sang Dalang, dia tidak gentar ketika diancam dan akan dihianati oleh anak buahnya.


Konflik pun bertambah dengan perebutan peran untuk pagelaran ‘Karno Tanding’. Cak Lontong dan Akbar yang menjadi anak kandung sang dalang pun berebut ingin mengisi peran sebagai Arjuna di banding dengan peran Karna. Sang ibu, yang diperankan oleh Happy Salma sangat khawatir atas pertikaian anaknya tersebut.


Puncak konflik pun tercipta ketika sang Dalang (Sudjiwo Tedjo) tau kalau salah satu anaknya yang di perankan oleh Cak Lontong merupakan hasil selingkuh dari Surya (Marwoto). Lagi lagi sang dalang diuji, dan hebatnya sang dalang pun dapat meredam segala kekisruhan yang ada dan tetap ingin melnjutkan amalnya untuk mempagelarkan ‘Karno Tanding’.


Peran apik dari para lakon yang dibungkus lewat cerita yang klasik membawa pagelaran Teater Indonesia kita yang ke-22 ini sukses. Belum lagi musik gubahan yang dibawakan Bintang Indiranto dan teman-teman, serta tarian Jawa turut menyamarakkan panggung Sabdo Pandito Rakjat.