Pameran Tunggal Nyoman Erawan : SHADOW DANCE

30-11-2016 05:11:28 By Rasyid Hadi
img

Art:1 mempersembahkan sebuah pameran tunggal dari maestro perupa Bali, Nyoman Erawan bertajuk “SHADOW DANCE”. Pameran ini merupakan sebuah program pameran tunggal yang telah dibuka pada hari kamis, 24 November 2016 hingga 8 Desember di Art Space:1, Lantai 2, Art:1, JL. Rajawali Selatan Raya No.3, Jakarta. dscf0487Program ini merupakan program lanjutan dari Special Project yang dilaksanakan oleh Art:1 pada Bazar Art Jakarta yang diadakan di The Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta pada 25-28 Agustus 2016 kemarin. Karena banyaknya animo serta apresiasi yang tinggi, maka Art:1 mengadakan dan meneruskan kembali program bersama Nyoman Erawan. dscf0480Karena kecocokan antara Art:1 yang memiliki komitmen untuk membuat program berkualitas, terutama penekanan ide – ide kreatif dalam visual serta konsep berkarya, maka karya terakhir dari Nyoman Erawan series “Cosmic Dance” dan “Shadowdance” yang dibungkus dalam media campuran patut diapresiasikan dalam pameran ini untuk memperlihatkan penjelajahan artistik yang mengagumkan. dscf0490Sebagai seorang maestro perupa, Nyoman Erawan merupakan seniman generasi 1980an yang lahir pada 27 Mei 1958 berasal dari daerah seni Banjar Dlod tangluk, Sukawati, Gianyar Bali. Maestro yang murah senyum ini merupakan alumni Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) Yogyakarta. dscf0486Lukisan – lukisan karya Nyoman Erawan pada pemeran kali ini memvisualisasikan seakan tidak ada gambaran objek – objek nyata yang bisa kita kenali secara umum, seperti tidak adanya bentuk figur manusia. Seolah hanya terlihat tanda dari jejak sapuan kuas dan permainan corak pilihan warna yang cenderung terbatas. Secara keseluruhan karya – karya beliau kali ini menunjukan muatan nilai - nilai yang mungkin bisa dicapai oleh komposisi sapuan warna - warna yang ekspresif. Dalam karya beliau yang dipamerkan memperlihatkan semacam aturan mengenai raut permukaan bidang serta efek – efek ledakan dalam diri seseorang yang dapat dihubungkan dengan pengalaman dan sensasi dari suatu hentakan kejadian, maupun di dalam keadaan diam senyap. dscf0488Sebagai kurator pameran, Rizki A. Zaelani membaca karya Nyoman Erawan yang termuthakir ini seperti menegaskan apa yang dijelaskan pemikir Dick Hartoko, bahwa ekspresi “Seni dapat membuka mata kita terhadap kenyataan, bukan kenyataan matematis, melaikan kenyataan puitis.” Dimensi puitik pada lukisan beliau tidak dinyatakan tidak dinyatakan untuk menggambarkan tentang dunia terlihat yang kita alami secara biasa, melaikan soal ekspresi aktual sosok [manusia] dalam merepresentasikan “rasa yang tak terlihat’ [unseen feeling] dan ‘daya kreatif’ [creative power] yang dihayatinya. Daya dan rasa semacam ini bukan hanya milik seorang seniman, tetapi juga pihak – pihak yang menikmatinya. Dari titik inilah kita bisa memahami apa yang dimaksud dengan tarian bayangan[shadow dance]”.