Sri Eng Tay : Pertarungan Untuk Menjadi Pendekar Nomer Satu

02-11-2016 03:11:58 By Rasyid Hadi
img

Dalam pementasan Indonesia Kita yang ke 21 yang di dukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation kembali mempersembahkan pementasan “Sri Eng Tay” yang mengambil warisan cerita legendaris dengan balutan “Heritage Of Indonesia: Dari Warisan Menjadi Wawasan”. sriengtay-6 “Sri Eng Tay” merupakan pementasan yang mengambil wawasan cerita legendaris dari budaya Tionghoa. Warisan budaya Tionghoa di Indonesia merupakan salah satu bagian penting di dalam perkembangan budaya Indonesia. Banyak pedoman hidup tentang sikap manusia yang baik dan buruk, tentang tipu muslihat, ambisi, dan keserakahan banyak diangkat di dalam cerita Tionghoa, baik melaui buku maupun film. Kebanyakan masyarakat di Indonesia sudah akrab dan juga cukup mencintai cerita dari budaya Tionghoa , terutama dengan drama persilatan. Hal itu lah yang menjadi inspirasi bagi Indonesia Kita Untuk mengangkat programnya yang ke 21 ini untuk merefleksikan salah satu warisan budaya Tionghoa menjadi wawasan terhadap berbagai corak perilaku manusia di masa kini. “Sri Eng Tay” menceritakan kisah perebutan kekuasaan di dunia silat untuk menempati posisi menjadi pendekar terkuat di dunia persilatan. Pertunjukan “Sri Eng Tay dibuka dengan pertunjukan seni beladiri wushu yang di bawakan oleh kelompok “Bulgari”. Nadya Permata Setiawan yang berperan menjadi Eng Tay merupakan salah satu angguta kelompok “Bulgari”. Tidak hanya Nadya, Herman Wijaya, Edgar Xavier Marvelo, Erwein Wijayanto, Gavryel Griffin Denel Vyel, Andrea Simon, David Hendrawan, Marcheal Liauw, Jason Keitaro, Muhammad Abdul Harist, Michael Hartanto, serta JoshTiesto Tanto yang merupakan Atlet Wushu Nasinal pun hadir sebagai pemain. sriengtay-2 Cerita “Sri Eng Tay” dimulai dengan kondisi dunia persilatan Kang-Ouw tengah bergemuruh. Setiap perguruan silat mendapat surat tantangan. Surat itu berisikan pembuktian siapa pesilat paling mumpuni di bumi Kang-Ouw. Surat itu sampai di perguruan “Pendekar Buta”. Surat tantangan itu membuat Si Pendekar Buta yang diperankan oleh Cak Lontong teringat akan murid termudanya bernama Eng Tay. Sayangnya, Eng Tay sudah lama menghilang. Akhirnya, Pendekar Buta bersama murid tertua, Pendekar Rajawali Muda yang di perankan oleh Akbar, mengembara mencari Eng Tay. Ternyata perguruan “Go Bin Pai” juga mendapat surat tantangan tersebut. Tetapi kondisi perguruan “Go Bi Pai” sedang berduka karena kematian Suhu atau ketua mereka yang bernama Pendekar Cantik Buruk Rupa. “Go Bin Pai” merupakan sebuah perguruan silat yang seluruh anggotanya adalah perempuan. Bukan suasana sedih dan duka yang hadir, guyonan khas Trio GAM (Guyonan Ala Matraman) yang beranggotakan Gareng Rakasiwi, Wisben Antoro, dan Joned yang berperan menjadi Event Organizer kematian Suhu perguruan silat “Go Bi Pai” menjadi humoris. sriengtay-3 Ternyata Pendekar Cantik Buruk Rupa yang merupakan suhu perguruan “Go Bi Pai” yang di perankan oleh Yu Ningsih belum meninggal. Kabar tersebut belumlah cukup menutup kesedihan perguruan “Go Bi Pai”, pasalnya Suhu mereka tengah diincar dan akan dibunuh oleh seorang pendekar yang sakti. Seluruh anggota perguruan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, Kejadian ini berkembang menjadi suatu perebutan, intrik dalam perguruan itu pun semakin menegangkan, karena sang suhu hanya mau mewariskan jurus pamungkasnya kepada murid tersayangnya yang bernama Sri. Namun murid kesayangan sekaligus murid terkuat perguruan silat “Go Bi Pai”, yaitu Sri sudah lama pergi dari perguruan itu. Tak jelas kemana Sri Eng Tay pergi, ada desas-desus dia berguru ke perguruan lain, ada juga kabar Sri sudah lama meninggal. Pengembaraan Pendekar Buta dan muridnya sampai di Perguruan "Pondok Bambu" yang dikepalai oleh dua orang pendekar tua bersaudara, yakni Pendekar Tua Tanpa Gerak yang di perankan oleh aktor kawakan Henky Solaiman dan Pendekar Mabuk Tanpa Gerak yang diperankan aktor senior Marwoto. Di perguruan itu, Pendekar Mabuk mengajak Pendekar Buta untuk berkoalisi mengalahkan Pendekar Cantik Buruk Rupa. Pendekar Buta menolak tawaran itu karena misisinya ialah mencari adik seperguruan Rajawali Muda. Keduanya meneruskan pengembaraan mereka. sriengtay-5 Pengembaraan keduanya sampai di perguruan “Go Bi Pay”. Keduanya disambut oleh Pendekar Cantik Buruk Rupa dan murid-muridnya. Ternyata pendekar Buta dengan Pendekar Cantik Buruk Rupa sudah bersahabat sejak lama. Pendekar Rajawali Muda pun memberitahu niat jahat bahwa Pendekar Mabuk Tanpa Gerak akan membunuh Pendekar Cantik Buruk Rupa. Disaat kecemasan itu muncul lah seorang pendekar wanita dengan menggunakan baju putih, berselendang merah, dan caping menutupi wajahnya. Ketiganya mengira pendekar itu adalah suruhan Pendekar Mabuk. Ketika pendekar itu menampakkan wajahnya di bawah sinar rembulan membuat ketiganya terkejut. Ketiganya mengenal wajah pendekar misterius itu. Pendekar Cantik Buruk Rupa memanggilnya Sri. Sedangkan, Rajawali Muda memanggilnya Eng Tay. Ternyata, selama ini Sri dan Eng Tay adalah orang yang sama. Setalah itu, Perguruan Pondok Bambu pun sampai di padepokan “Go Bin Pai” dan memulai penyerangan. Pertarungan sengit untuk menentkan siapa pendekar terkuat pun berlangsung dan sampai akhirnya kelompok perguruan “Pondok Bambu” Pun kalah. sriengtay-7 Kehadiran Trio GAM, Marwoto, dan duet maut Cak Lontong dan Akbar membuat lakon “Sri Eng Tay” penuh dengan gelak tawa sepanjang pertunjukan berlangsung. Tak hanya itu, Iringan musikal yang dibawakan oleh “Jakarta Street Music” yang luar biasa apik membuat pertunjukan yang berlangsung berhasil membuat penonton puas.