"Black Brothers" Legendaris dari Papua

02-11-2016 12:11:18 By Iwan Inkiriwang
img

JakartaVenue - Pada tahun 70an Indonesia memiliki beberapa band legendaris seperti Koes Plus, The Mercy’s, Panbers, dan D’Loyd. Namun sebenarnya ada satu lagi grup band yang juga melegenda dan satu-satunya band legenda dari belahan timur Indonesia. Mereka adalah Black Brothers yang berasal dari tanah Papua (dulu Irian Barat/Jaya). Ya, Black Brothers digawangi oleh putra-putra asli Papua seperti; Hengky MS (lead gitar dan lead vokal), Amry M. Kahar (terompet), Benny Bettay (bass), Yochie Pettipeiluhu (keyboard), Stevie Mambor (drum), dan David Ramagesan (Saksofon), mereka datang ke Jakarta pada tahun 1976 dibawah manager Andy Ayamiseba. black-bros Black Brothers dikenal karena lagu-lagu mereka bertema kritik sosial seperti Hari Kiamat, Lonceng Kematian dan Derita Tiada Akhir. Tapi bukan Cuma berisi kritikan saja, karena mereka juga menciptakan musik-musik yang keren bercerita tentang perdamaian, cinta dan harapan. Gaya bermusik mereka juga terbilang cukup unik dan belum pernah terdengar sebelumnya di tanah air, karena mereka bisa membawakan hampir semua jenis musik dan lagu mulai dari pop, rock, reggae, funk serta musik etnik papua. Bahkan musik keroncong pun mereka lalap sesuai dengan gaya mereka dalam lagu Keroncong Kenangan. Hal ini yang membawa mereka pada ketenaran dan kepopuleran yang tinggi bahkan gaungnya sampai ke negara Papua New Guinea. Hingga kini menurut cerita, lagu-lagu mereka masih sering di dengar dan menginspirasi anak muda disana membuat band yang keren seperti mereka. black-brothers-10 Namun ada sebuah kejadian pada tahun 1979 yang membuat nama grup band Black Brothers sempat menghilang, yaitu ketika lagu mereka yang berjudul “Hari Kiamat” sempat dilarang diputar karena dianggap menyindir pemerintahan orde baru. Saking terlalu beraninya mereka menentang pemerintah Indonesia atas perlakuan terhadap Papua dengan mendukung gerakan Papua Merdeka membuat mereka harus pergi ke Papua New Guinea. maxresdefault Tetapi belum lama ini, sekitar empat tahun yang lalu mereka sempat datang ke Jakarta dan mencoba menyapa penggemar dengan lagu-lagu hits mereka antara lain Kisah Seorang Pramuria yang sempat diremake oleh grup rock Boomerang, Saman Doye yang masuk kompilasi ”Those Shocking Shaking Days: Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk” bersama Koes Plus, Aka dan lain-lain. Ada satu lagu yang mereka bawakan ketika mendukung klub sepakbola Papua (Persipura) yang berjudul sesuai dengan nama klub tersebut, dan lagu tersebut sampai sekarang sering di nyanyikan anak-anak Papua dan pendukung tim Persipura.