Doctor Strange: Pertunjukan Magis Marvel Studio

27-10-2016 11:10:14 By Yehezkiel Sihombing
img

Marvel Studio menutup tahun 2016 dengan sesuatu yang jelas-jelas berbeda. Tokoh yang kini diangkat mungkin tidak banyak diketahui orang awam. Kekuatan supernya juga tidak bisa disandingkan dengan karakter-karakter Marvel lainnya. Karena yang satu ini kemampuannya melampaui dimensi fisik. Tepatnya metafisik dan supranatural. Yang dimaksud adalah film Doctor Strange. Yang mengisahkan perjalanan hidup seorang dokter bedah bernama Dr. Stephen Strange (Benedict Cumberbatch). Kemampuannya di meja operasi tidak diragukan lagi. Dr. Strange bahkan acap kali melakukan tindakan-tindakan medis yang tidak masuk akal. Keberhasilannya kian memegahkan dirinya menjadi seorang yang sombong. Namun kehidupan Strange seketika berubah ketika ia harus mengalami sebuah kecalakaan mobil yang membuat kedua tangannya tidak lagi dapat berfungsi secara normal. Segala upaya yang dikerahkan guna memperbaiki tangannya berujung sia-sia. Tidak ingin menyerah begitu saja, Strange lantas pergi ke Kamar-Taj, Nepal untuk bertemu dengan The Ancient One (Tilda Swinton). Di tempat itulah semuanya berubah, Strange mengalami berbagai hal-hal yang di luar kemampuan akalnya. Tidak hanya ingin mencapai kesembuhan fisik, Strange juga akhirnya memutuskan untuk mempelajari kekuatan magis yang dimiliki The Ancient One. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=Lt-U_t2pUHI[/embed] Film dengan estimasi biaya produksi sebesar $165,000,000 ini jelas merupakan satu film yang tidak boleh dilewatkan. Bukan hanya untuk kamu penggemar film-film superhero, tapi juga pecinta karya fantasi. Visual yang disajikan dalam film ini merupakan sensasi tersendiri yang tidak tampil di film-film Marvel sebelumnya. Petualangan lintas dimensi Strange menghadirkan perjalanan psikadelik penuh warna-warni yang memukau. Meski cukup disayangkan, perihal durasi membuat beberapa hal terasa cukup dipaksakan. Krakter Doctor Strange sepertinya bisa menjadi lebih kuat lewat penuturan yang lebih panjang serta mendetail. Toh tidak ada salahnnya untuk memproduksi sequel nya, kan?