"Fear with Film" oleh Kineforum

26-10-2016 04:10:20 By Yehezkiel Sihombing
img

JakartaVenue - Untuk dapat tayang didepan khalayak luas, sebuah film harus melewati berbagai proses kontrol dan evaluasi yang dilakukan oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah mengenai sensor. Tepatnya tentang standar kelayakan konten yang disajikan. Baik gambar, dialog, dan simbol-simbol di dalamnya harus terlebih dulu dipastikan aman untuk dikonsumsi target audiens dari film tersebut. Di Indonesia, LSF (Lembaga Sensor Film) digadang sebagai pihak yang melakukan validasi kelayakan dari sebuah film untuk tayang di hadapan masyarakat, khususnya di layar lebar. Umumnya konten yang seringkali mendapat hambatan dari pihak LSF adalah hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan, propaganda, atau seksual. Mengingat hal-hal tersebut dirasa dapat menjadi sesuatu yang berbahaya bagi perkembangan moral masyarakat. Meski sejatinya, intepretasi setiap manusia adalah berbeda-beda. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=jGzV7QD9ULg[/embed] Menyikapi pro kontra tindakan sensor pada film-film Indonesia, Organisasi Kineforum yang berada di bawah naungan Dewan Kesenian Jakarta menggelar sebuah program bertajuk “Film and Fear” di sepanjang bulan Oktober 2016. Program ini dibagi kedalam dua sub-program, yakni “Film with Fear” yang menampilkan film-film yang membawa atmosfir ketakutan untuk penonton sebagai elemen utama. Dan sub-program kedua, yang kini tengah berlangsung berjudul “Fear with Film”. Sub-program penutup tersebut diadakan guna mengajak publik untuk mengkritisi ketakutan terhadap film dalam beragam wujud sensor dan penolakan, yang antara lain dilakukan dengan cara pemotongan, penyensoran, hingga pelarangan. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=JmqRPu1yP1Q[/embed] Sebanyak 9 buah film dipilih untuk mengisi sub-program “Fear with Film”. Diantaranya adalah 3 buah film Indonesia era 70-80an yang memiliki catatan sejarah yang menggambarkan ketakutan terhadap film. Dalam hal ini berupa sensor atau larangan penayangan. Film-film tersebut adalah “Yang Muda yang Bercinta”, “Kanan Kiri Oke”, dan “Perawan Desa.” Selain ketiga film tersebut, juga akan ditayangkan film-film lainnya, yang mana 4 film diantaranya akan ditayangkan dalam versi utuh. Pemutaran film-film tersebut secara utuh bertujuan agar relevansi sensor sebagai bentuk ketakutan terhadap film dapat kembali ditinjau.  Film-film yang juga turut meramaikan sub-program “Fear with Fim” anatara lain “A Copy of My Mind”, “3 Hari Untuk Selamanya”, “Prison and Paradise”, dan masih banyak lagi. Kamu penggemar film, khususnya sinema Indonesia, jangan sampai ketinggalan program yang sangat menarik ini. Semua pilihan film yang akan ditayangkan bisa kamu nikmati di bioskop mini Kineforum yang terletak di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Untuk informasi mendetail, bisa kamu lihat di sini.