Close Up Interview with Audrey Maxi (CEO of Riliv)

19-10-2016 05:10:54 By Rasyid Hadi
img

Hai, Maxi! Bagaimana kabarnya? Sedang sibuk apa belakangan ini?

Hello baik-baik saja, sekarang sedang sibuk fokus membangun startup Riliv

Bisa ceritakan sedikit mengenai latar belakang dan cerita awal dibuatnya aplikasi Riliv?

Ide dari riliv muncul adalah pada suatu ketika saat saya asyik bermain sosial media saya seringkali melihat-lihat media sosial yang banyak berisi status atau tweet dari teman-teman di sekitar saya yang isinya kesedihan dan kegalauan. Yang saya heran, tidak sekali atau dua kali melainkan setiap saya membuka social media, selalu ada status yang berisi hal-hal tersebut. Bukannya mereka malah menjadi lega, terkadang teman-teman lainnya malah menertawakan dan bahkan ada yang mem-bully. Saya langsung beranjak dan membuka laptop untuk melakukan riset singkat. Hasilnya ternyata mencengangkan, yaitu menurut WHO, ternyata setiap 40 detik satu orang bunuh diri akibat mengalami kesedihan yang mendalam atau depresi di seluruh dunia. Dan dari populasi orang dewasa di Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6 persen atau 17,4 juta jiwa mengalami gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi. Data itu saya dapat dari Riset Kesehatan Dasar Nasional. Dari sini saya belajar bahwa di balik hiruk pikuk kemeriahan, kegembiraan, dan kesenangan dalam media sosial mulai dari selfie sampai nongkrong-nongkrong hits, masih banyak orang di luar sana yang mengalami kehidupan sehari-hari yang berat. So why don’t we make platform to help these depressed people? Just because we don’t know them, doesn’t mean that they don’t need help. Depresi mungkin terkesan masalah sepele namun berdasarkan statistik yang disebutkan sebelumnya  merupakan masalah yang urgent. Sayangnya, tidak semua orang menyadari hal itu. Mayoritas masyarakat di Indonesia cenderung mengacuhkan kondisi kesehatan mental mereka dan mengabaikan pentingnya penanganan psikolog.

Riliv bukan merupakan aplikasi curhat pertama di Indonesia. Apa yang membadakan Riliv dengan yang lain?

Riliv bukan sembarang aplikasi curhat,mungkin sudah ada beberapa aplikasi curhat yang memiliki kemiripan dengan Riliv di seluruh dunia. Namun yang membuat Riliv lebih unggul dari mereka adalah Riliv akan menghadirkan experience yang benar-benar mempertemukan para user yang memiliki permasalahan dengan orang-orang yang tepat yaitu yang benar-benar mengerti tentang permasalahannya sehingga jawaban tidak asal-asalan dan tidak men-judge.  Riliv adalah media online konselling dengan psikolog professional.

Apakah ada kendala khusus dalam pembuatan aplikasi ini?

Edukasi Pasar dan stigma masyarakat tentang orang ke psikolog adalah orang yang gila.

Bagaimana mencari dan menyaring reliever? apakah ada kriteria khusus?

Riliv adalah social network yang menghubungkan sesorang yang memiliki permasalahan pribadi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang psikologi yang disebut dengan “Reliever”. Reliever memiliki 2 jenis yaitu Expert Reliever yang merupakan Psikolog/Therapist dan adapula Regular Reliever yaitu merupakan mahasiswa psikologi. Kriteria sebagai Reliever adalah mereka harus memiliki background psikologi untuk Regular Reliever mereka harus lulus mata kuliah konselling dan untuk Expert Reliever mereka harus S2 Psikolog

Butuh berapa lama kira-kira satu reliever untuk menjawab menjawab suatu kasus? apakah ada standartnya?

Expert Reliever akan membalas kurang lebih 1x24 jam

Bagaimana dengan anda sendiri? Apakah anda terbantu dalam memecahkan masalah lewat curhat kepada teman atau pakar psikologi?

  Ya tentu saja setelah bertemu dengan sekian psikolog untuk melakukan market research dan valdiation. Berbicara dengan orang yang tepat benar-benar berbeda karena psikolog memiliki metode-metode unik dalam mendengarkan masalah dan membimbing ke arah yang lebih baik

Sampai sejauh mana kemampuan Riliv dapat memecahkan masalah pribadi penggunanya? Apa yang membedakan dengan konsultasi secara langsung dengan ahlinya?

  Distribusi tenaga psikolog di Indonesia sangatlah tidak merata, bahkan mungkin kita tidak tahu dimana kita dapat menemukan psikolog di sekitar kita apalagi yang berada di pulau terpencil di Indonesia. Di Riliv kita dapat menyampaikan permasalahan pribadi dengan anonim dimana pun dan kapan pun dan mendapat arahan tentang permasalahan yang dimiliki oleh pengguna

Keberadaan Riliv ikut membuktikan bahwa teknologi mampu menjawab semua yang dibutuhkan orang, bahkan termasuk masalah pribadi. Bagaimana tanggapan anda mengenai hal ini?

Teknologi hanyalah alat untuk mencapai tujuan Riliv yang sebenarnya yaitu menciptakan senyuman di seluruh dunia dengan berbicara dan didengar oleh orang yang tepat. Riliv ingin mendukung secara penuh dunia Psikologi di Indonesia. Kami ingin Indonesia lebih aware tentang pentingnya mental health dan keberadaan psikolog di Indonesia. Karena kami yakin sesungghunya orang-orang yang tepat seperti psikolog lah yang dapat menjawab permasalahan pribadi masyarakat

Adakah cerita-cerita lucu atau menarik yang pernah dicurahkan oleh pengguna Riliv?

Apabila kita melihat permasalahan pribadi yang ada di Riliv tanpa mengetahui siapa usernya karena user dari Riliv adalah Anonim kita akan merasa menjadi orang yang sangat beruntug di dunia ini karena ada banyak orang di luar sana yang memiliki permasalahan yang berat dan kita tidak pernah merasakannya mulai dari broken home, permasalahan karir, depresi ringan, dan bullying. Namun yang paling penting Riliv tidak diperuntukkan untuk orang yang ingin melakukan suicide karena Riliv bukan platform untuk orang yang ingin bunuh diri. Riliv hanya membantu orang-orang yang punya masalah agar menjadi tidak berlarut-larut

Anda terbilang muda dan pastinya selain curhat anda juga punya segudang cara untuk melepas penat atau sejenak melupakan masalah pribadi. Dengan cara apa anda melakukannya?

Entah permasalahan apapun yang terjadi, hal yang saya lakukan adalah moving on dan mengikhlaskan hal yang sudah terjadi dan tidak berlarut-larut, kemudian memaafkan atau berdamai dengan diri sendiri dan mencoba memperbaikinya dengan doing something tidak jarang saya juga meminta pendapat orang-orang yang saya rasa tepat untuk memberi saran

Anda cukup banyak mendapat penghargaan terkait bidang teknologi. Apa kiat-kiat anda untuk mencapai kesuksesan tersebut?

Banyak orang yang memulai bisnis teknologi dengan alasan yang salah mulai seperti keren-kerenan, mengikuti tren, mendapatkan investasi milyaran dolar atau hanya sekedar menjadi kaya saja dan melupakan hal yang paling penting  yaitu fokus dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Lets focus on the real problem! Saya percaya dengan niat untuk membantu orang-orang (calon user) dalam menyelesaikan permasalahannya di berbagai bidang entah itu transportasi, lingkungan atau kesehatan akan menimbulkan impact yang bermanfaat untuk semua sehingga bisnis teknologi akan dipakai dan diinginkan oleh masyarakat.