Up Close Interview with Mikey Moran

14-10-2016 03:10:46 By Yehezkiel Sihombing
img

Kali ini tim JakartaVenue berkesempatan untuk berbincang santai dengan Mikey Moran, pria yang mungkin lebih dikenal sebagai DJ kawakan ini juga merupakan Co-Founder dan Brand Director dari GO-JEK. Di kediamannya, kepada JakartaVenue Ia bercerita mengenai banyak hal, dari gejolak dance music scene di Indonesia, sampai alasan penggunaan warna hijau pada brand GO-JEK.

Hi, Mikey! Lagi sibuk apa nih belakangan ini?

Akhir-akhir ini lagi fokus untuk anniversary ke-6 dari GO-JEK, dan handle marketing campaign untuk GO-MED dan GO-AUTO. Selain itu juga masih sering show di beberapa tempat.

Kalau bicara mengenai Mikey Moran sebagai seorang DJ, bagaimana sih awal mulanya bisa terjun ke scene tersebut?

Gue memang grew up with music, dari kecil belajar beberapa instrumen seperti gitar, drums, piano, sampai saxophone. Nah, di tahun 2004, saat selesai pendidikan di Boston, gue beli turntable dari seorang teman dan mulai belajar DJ. Tapi kalau bicara mengenai ketertarikan awal sebenarnya muncul ketika tahun 2002 pergi ke Ibiza. Di sana gue takjub melihat bagaimana para DJ membangun energi dan vibes yang asik banget. Selain itu, yang juga menginspirasi gue adalah film berjudul Groove (2000).

Setelah itu, bagaimana akhirnya bisa membangun karir sebagai seorang DJ di Indonesia?

Di tahun 2004 gue pulang ke Jakarta dan bertemu dengan DJ Stan. Setelah itu diajak untuk main di Manna House, Senayan (sekarang sudah tutup). Gue dengan Stan juga akhirnya membangun DJ management, namanya Trigger Production. Setelah masa-masa itu akhirnya mulai melihat DJ sebagai karir.

Genre apa yang biasanya dimainkan?

Deephouse. Gw suka banget dengan deephouse, meskipun di awal-awal gue juga membawakan hip hop. Karena memang di tahun 2004 yang paling kedengaran di club tuh lagu-lagunya Nelly, Ja Rule, dan Missy Eliott. Hip hop lagi rame banget lah waktu itu. Tapi dari hip hop juga akhirnya gw mulai belajar bawain funk, house, sampai ke tech house.

Bisa disimpulkan kalau lo sudah cukup lama berkecimpung dalam dance music scene di Indonesia. Bagaimana lo melihat perubahan-perubahan yang terjadi sekarang?

Perubahan yang paling terasa ketika gw harus ngelanjutin studi gw ke luar negeri di tahun 2008, dan kembali ke Jakarta di tahun 2010. Pas gue balik, semuanya totally different, beberapa club tempat dulu gw main sudah banyak yang tutup, begitu juga orang-orang yang dulu support gw as a DJ. Tapi yang paling menarik dari dance music scene sekarang adalah lo nggak lagi harus ke club untuk nikmatin musik dan vibes yang seru. Sekarang pilihan tempatnya jauh lebih variatif, dari club sampai lounge.

Kalau sekarang ini, di mana menurut lo tempat dengan crowd paling seru di Jakarta?

Gue justru udah nggak begitu suka lagi ke club sekarang. Diantara beberapa club di Jakarta gue mungkin masih suka ke Dragonfly dan Hide and Seek. Tapi yang favorit untuk gue paling Jenja karena mereka mainin lagu-lagu deep tech house. Kebetulan baru aja main di situ weekend kemarin. Menurut gw mereka punya sound yang paling bagus di Jakarta. Overall gue prefer ke lounge sebenarnya. Di sana gue lihat orang-orangnya lebih terbuka dengan different kind of dance music.

Selain local dance music scene, yang juga berubah dari keseharian lo sejak tahun 2010 adalah karir lo sebagai entrepreneur, di mana lo merupakan co-founder dari GO-JEK. Apa perubahan yang paling signifikan sejak loe memiliki beberapa profesi sekaligus?

Tidak ada perubahan yang besar sih. Justru semua yang gue lakukan kurang lebih membantu kesuksesan hal yang lain juga. Ada banyak hal yang gue kerjakan untuk GO-JEK dan itu membantu relasi profesi DJ gw, begitupun sebaliknya.

Selain sebagai Co-founder, lo juga merupakan Brand Director dari GO-JEK. Apa sebenarnya tugas seorang Brand Director di GO-JEK?

Gue yang bertanggungjawab untuk semua kebutuhan desain dan kreatifnya. Mulai dari logo, merchandise, social media, online videos, offline events, dan semua desain lain yang menempel pada brand GO-JEK. Di awal berdirinya, gue bahkan pernah jadi satu-satunya desainer untuk GO-JEK.

Termasuk wardrobe untuk driver GO-JEK juga? Kalau gitu bisa ceritain nggak kenapa lo pilih warna hijau untuk GO-JEK?

I wanted something that more organic and eco-friendly. That’s why waktu itu gue dan team GO-JEK sepakat untuk pilih warna hijau. Gue sudah coba semua warna sebelumnya, tapi gue lebih tertarik warna hijau karena punya link ke environment issues. Dan sesuai dengan rencana GO-JEK untuk kedepannya pakai electric bike.

Ada nggak persamaan dari menjadi seorang DJ dan entrepreneur?

Menurut gw It’s all about how to adapt. Di GO-JEK gue bertemu dengan ribuan driver dan karyawan. Begitu juga dgn DJ, di mana gw harus membawakan set yang tepat untuk orang banyak.

Sebagai seorang Co-founder, bisa dipastikan kalau lo berharap GO-JEK bisa bertahan dalam waktu yang lama. Apa harapan yang sama juga berlaku untuk karir Dj lo 10-15 tahun kemudian?

Not really sure sih kalau gue masih punya energi. Mungkin di waktu itu gue akan prefer untuk bawain set yang lebih chill, seperti di sunset party misalnya. Tapi yang pasti gue akan tetap bikin mixtape, dan mengurusi record label yang kebetulan baru aja gue dirikan, Bali Praia.

Okay, pertanyaan ini mungkin agak random. Lagu-lagu apa yang akan lo putar kalau lo terjebak sendirian di remote island?

[embed]https://www.youtube.com/watch?v=spIyzp8XDn4[/embed] [embed]https://www.youtube.com/watch?v=Qc7TRcUGWgk[/embed] [embed]https://www.youtube.com/watch?v=atRKZIKBm7A[/embed]

Sepertinya Mikey Moran akan sangat menikmati dong ya sendirian di remote island?

It’s gonna be hard, tapi gue akan buat jadi menyenangkan dengan lagu-lagu itu.