“SRI ENG TAY” Program Indonesia Kita 2016 Heritage of Indonesia: Dari Warisan Menjadi Wawasan

13-10-2016 06:10:08 By Ganest Afliant
img

JakartaVenue - Tahun 2016 Indonesia Kita hadir dalam balutan “Heritage of Indonesia: Dari Warisan Menjadi Wawasan”. Pentas mendatang merupakan pentas Indonesia Kita ke-21 yang akan mengambil warisan cerita legendaris Tionghoa untuk dipersembahkan kepada publik, dengan judul lakon Sri Eng Tay”. Warisan Budaya Tionghoa di Indonesia merupakan salah satu bagian penting di dalam perkembangan budaya Indonesia. Berbagai pedoman hidup tentang sikap manusia yang baik dan buruk, tentang tipu muslihat, ambisi dan keserakahan telah diangkat di dalam cerita Tionghoa baik melalui buku maupun film. Masyarakat Indonesia pada umumnya akrab dan menggandrungi cerita Tionghoa, terutama yang mengangkat kisah-kisah para pendekar silat. Hal ini menjadi inspirasi bagi program Indonesia Kita pada pentas ke- 21, untuk merefleksikan warisan budaya Tionghoa menjadi wawasan terhadap berbagai corak perilaku manusia di masa kini. eposter_jakartavenue   Lakon Sri Eng Tay Lakon Sri Eng Tay adalah sebuah upaya memadukan beragam warisan budaya Tionghoa ke dalam pertunjukan yang bisa merefleksikan persoalan kekinian. Mengisahkan tentang dunia persilatan atau dunia Kang-Ouw yang terinspirasi dari ragam cerita silat sebagaimana dalam karya-karya Kho Ping Ho, Chin Yung, Khu Lung dan lain-lain, yang dipadukan dengan cerita legendaris Sam Pek Eng Tay dan seni bela diri Wushu. Lakon Sri Eng Tay dimulai dengan suasana duka dan gelisah sebuah perguruan silat bernama “Go Bi Pai”, sebuah perguruan silat yang seluruh anggotanya adalah perempuan. Suasana sedih dan gelisah terjadi karena mendengar kabar munculnya seorang pendekar yang akan membunuh suhu mereka. Ada dendam lama yang muncul kembali dan ingin menuntut balas. Dunia Kang-Ouw semakin gempar. Sebab pendekar itu bukan pendekar sembarangan. Dia dikabarkan telah berhasil merenggut banyak nyawa para pendekar hebat. Seluruh anggota perguruan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk apabila suhu atau guru besar mereka akhirnya tewas. Bahkan sebelum suhu mereka benar-benar tewas, para murid telah menyiapkan upacara kematiannya. Tentu saja murid-murid juga membicarakan, apabila guru besar mereka tewas, siapa yang akan menjadi penggantinya. Ancang-ancang ini berkembang menjadi suatu perebutan. Intrik dalam perguruan itu pun semakin menggelisahkan, karena sang suhu belum juga mewariskan jurus pamungkas. Sang Suhu menegaskan: jurus pamungkas itu hanya akan diwariskan kepada Eng Tay. Jurus itu memang hanya bisa dimainkan oleh perempuan. Bila dipelajari oleh lelaki, maka lelaki itu akan menjadi “keperempuan-perempuanan”. Persoalannya, Eng Tay sudah lama pergi dari perguruan itu. Tak jelas kemana Eng Tay pergi. Mungkin sedang berguru menuntut ilmu pada guru yang lain. Tapi kabarnya Eng Tay sudah mati terbunuh. Tak jelas kebenarannya. Rupanya semua itu adalah siasat para pendekar untuk menjadi Pendekar Nomor Wahid di dunia persilatan, yang membuat banyak perguruan silat berkumpul dan menghimpun kekuatan masing-masing. Ada perkumpulan bernama Perkumpulan Pendekar Pengemis Sakti, ada Perkumpulan Pendekar Rajawali Mabuk, dan perhimpunan perkumpulan pendekar lainnya. Pada saatnya pendekar yang misterius itu muncul dan pertarungan besar pun terjadi. Siapakah yang memenangkan pertarungan? “Melalui cerita berlatar belakang dunia persilatan ini, sebenarnya kita ingin merefleksikan situasi saat ini, ketika banyak yang dipenuhi ambisi dan hasrat berebut kekuasaan. Melalui cerita silat inilah, sikap kependekaran dan kenegarawanan menjadi sangat relevan,” ujar Agus Noor, penulis cerita dan sutradara pertunjukan Sri Eng Tay ini. Lakon Sri Eng Tay akan hadir dengan rancangan sebagai berikut: Program Indonesia Kita 2016 “Heritage of Indonesia: Dari Warisan Menjadi Wawasan” Pentas ke            : 21 Tema                   : Cerita Legenda  Tionghoa Judul Pentas     : Sri Eng Tay Jadwal                 : Jumat – Sabtu, 28 – 29 Oktober 2016 - Pukul 20.00 WIB Venue                  : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat Tim Kreatif         : Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Bre Redana, Djaduk Ferianto Tim Artistik        : Ong Hari Wahyu Pemusik              : Jakarta Street Music Pendukung         : Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Yu Ningsih, Trio Gam (Gareng, Joned, Wisben), Henky Solaiman, Hans Huang, Alena Wu, Febrianti Nadira, Flora Simatupang, Fitri Wahab,  Vivi Yip, Mira Rompas, Bulgari (Kelompok Wushu Jakarta).   HTM Sri Eng Tay: PLATINUM Rp. 500.000, VVIP Rp. 300.000, VIP Rp. 200.000 BALKON Rp. 100.000   Informasi & Reservasi Tiket Sri Eng Tay Kayan Production & Communication 0838 9971 5725 / 0856 9342 7788 / 0813 1163 0001