PILGRIMAGE : Tentang Perempuan Dalam Berbagai Kisah Sejarah

04-10-2016 11:10:42 By Prastiko Destamto
img

Rampung sudah pameran solo bertajuk Pilgrimage, yang merupakan ajang eksebisi karya seorang perupa perempuan Indonesia, Lenny Ratnasari Weichert. Pameran digelar terhitung dari tanggal 20 September – 1 Oktober 2016, dan menggunakan Galeri Nasional, Jakarta sebagai tempat perhelatannya. Kuratorial dari pameran ini diserahkan pada Bambang Asrini Widjanarko dan Agung Frigidanto. Secara garis besar, Pilgrimage adalah pameran karya-karya yan mencoba untuk mewakili suara seluruh perempuan Indonesia. Khususnya dalam mengkritisi fenomena dominasi patriariki dan perjuangan perempuan dalam memperjuangkan identitas di tengah kehidupan bermasyarakat Indonesia. Ruang pameran dibagi ke dalam tiga area, yakni Zona A, B, dan C. Zona A yang bertajuk “To Be or Not To Be” merupakan sebuah kristalisasi pengalaman-pengalaman dan identifikasi memori  masa lalu yang beragam, yang menggambarkan kegundahan sebagai seorang perupa perempuan dan perannya sebagai manusia yang menjaga reproduksi generasi.pilgrimage-0497 Sedangkan Zona B, “Dinners Club” adalah sebuah perjamuan makan tokoh-tokoh sejarah dan mitologi perempuan, seperti Malahayati, Colliq Pujie, Bunda Teresa, Siti Khadijah, Helena Blavatsky, Aung San Suu Kyi, Dewi Sri, Venus, serta Dewi Kwan Inn. Pada karya ini dapat disaksikan perumpamaan perjamuan para tokoh tersebut di samping layar yang mana diputarkan kisah mengenai teritori privat mereka. Dalam sub-karya berbentuk video tersebut, Lenny juga mencoba menguak keasadaran kolektif terhadap perempuan-perempuan yang mengalami nasib tragik (mantan tahanan politik hingga keluarga buruh yang memperjuangkan kebebasan berekspresi).pilgrimage-0502 Menuju Zona C, “Homage to Anonymous” zona terakhir yang juga sekaligus menjadi zona penutup dalam pagelaran solo Lenny. Zona yang mengkritisi prihal konsep dominasi patriarki di masyarakat dan dalam waktu sama juga dibentuk sebagai sebuah empati pada perempuan-perempuan yang di hilangkan dalam sejarah, ditiadakan dengan sengaja dan menjadi anonym. Salah satunya yakni sosok sejarah dan mitos Fatimah Binti Maimun yang digambarkan sebagai hulu para Wali Songo yang diimajinasikan dalam wujud 9 patung perempuan berhijab. Teks dan foto oleh Prastiko Destamto