Invasion Jakarta: Sebut Saja Pesta Imajinasi

29-09-2016 06:09:53 By Yehezkiel Sihombing
img

24 September 2016, Jakarta diguyur hujan deras sehari penuh. Sebuah berita yang nyatanya tidak dapat mengganggu gugat hasrat partygoers Indonesia untuk mengarah ke JIExpo, Kemayoran guna berdansa di hadapan para idola, tepatnya di gelaran Invasion Electric Dance Festival. “This year we will take you on a journey beyond your wildest imagination” demikian ajakan yang terlampir pada halaman website pihak penyelenggara, yakni EUPHORICS. Kalimat tersebut betul-betul memperkuat tema ‘Mystique Electro Forest’ yang diusung, atau setidak-tidaknya mebantu crowd dalam membayangkan lebih jelas akan seperti apa jadinya jika ikut serta ke indoor electric dance festival tersebut. Rupanya banyak yang tidak sabar untuk segera memasuki alam imajinasi. Nyatanya, pukul 8 malam, venue pertujukan sudah ramai pengunjung. Dan karena pesta akan berjalan dalam ruang indoor, muda-mudi yang datang tidak perlu segan untuk berdandan. Meski beberapa diantaranya masih memilih mengenakan atribut rave wajib, seperti kutang dan celana pendek. Dua set panggung sudah siap pada ruang yang terpisah. Panggung utama, yang nantinya akan menjadi wahana beraksi para penampil yang mengusung genre trance, future house, dan EDM diberi nama ‘Euphorics Ground’. Yang malam itu didekorasi sedemikian rupa bergaya trippy tribal, seperti hutan yang dihujani cat neon. Sedangkan rombongan tamu berkacamata hitam yang datang untuk penampil musik tech-house dan techno disediakan ‘Underworld Stage’, yang sayangnya berdiri tanpa dekorasi menarik. Pada panggung utama, nama-nama internasional sudah tampil sejak pukul 18.45. Berurutan diantaranya; Juncoco, Alex Adair, Sick Individuals, Shaun Frank feat Delaney Jane. Acungan jempol boleh diberikan untuk pihak penyelenggara atas urutan penampil yang membuat flow dari Invasion Jakarta dirasa tepat dan tidak membosankan. Pukul 22.30, pria dengan topeng rajut macam pencuri berdiri di panggung utama. Ya, Malaa sudah siap untuk memimpin pesta. Meski hanya berdurasi satu jam, penampilan Malaa berhasil memecah euphoria penonton lewat seleksi bass future house-nya. Sebuah pemanasan yang cocok untuk aksi-aksi selanjutnya, yakni bintang utama Steve Angello, dan dua punggawa trance, Markus Schulz dan Ferry Corsten/Gouryella. [caption id="attachment_14958" align="alignnone" width="4608"]Aksi Steve Angello di panggung 'Euphorics Ground' Aksi Steve Angello di panggung 'Euphorics Ground'[/caption] "Jakarta Are you ready? Jakarta I can't hear you, are you ready?” format sapaan standar dilontarkan personel Swedish House Mafia, Steve Angello. Crowd bersama-sama melontarkan teriakan kencang, dan lebih kencang lagi ketika EDM anthem “Leave The World Behind” dimainkan. Suasana area ‘Euphorics Ground’ semakin panas. Kemeriahan dan sorak gembira juga juga terjadi di ‘Underworld Stage’. Pada area yang menawarkan suasana yang lebih gelap ini, pemanasan dipimpin oleh berbagai DJ lokal seperti Basement House, Intermission, Ridwan, Shawn, dan kolektif techno Tanah air House Cartel. Penampilan mereka mengantakan penonton pada aksi duo Matt McBriar dan Andy Ferguson asal London, yang lebih akrab dengan nama panggung Bicep. Pada suguhan sound yang kurang memuaskan, keduanya berhasil membuat crowd bergoyang seru. Tidak ketinggalan Bicep juga memainkan lagu berjudul “Just”, komposisi orisinal milik mereka yang meraih “The top 100 tunes of 2015” versi Mixmag.net. [caption id="attachment_14959" align="alignnone" width="2304"]"Pecaaah!" teriak seorang dari kumpulan crowd ketika menyaksikan aksi Dubfire: Live Hybrid "Pecaaah!" teriak seorang dari kumpulan crowd ketika menyaksikan aksi Dubfire: Live Hybrid[/caption] Setelah Bicep, waktunya penampilan dari produser peraih Grammy Awards 2002, Underworld: Live Hybrid. Yang aksinya malam itu tidak berlebihan jika disebut sebagai penampilan terbaik di Invasion Jakarta. Karena tidak seperti beberapa penampil sebelumnya, Dubfire tampil dengan sound yang maksimal. Tidak ketinggalan, konsep penampilannya juga menawarkan visual yang liar dan berbahaya. Euphoria penonton meledak-ledak dalam takjub. Pesta diakhiri dengan penampilan Gouryella, yang membawa imajinasi penggila musik trance melesat ke angkasa. Karyanya yang berjudul 'Space’ dan 'Ferma trance93' dipilih sebagai encore, guna memuaskan tangan-tangan penonton yang belum enggan turun. Kedua lagu tersebut juga merupakan lagu terakhir yang berputar kencang pada gelaran Invasion Jakarta. Secara keseluruhan, Invasion Jakarta boleh dibilang sebagai rave yang cukup berbeda. Selain membawa deretan nama yang berhasil menangkap crowd dari semua genre, Invasion juga sukses menghidupi imajinasi liar para pengunjung. Senyum lebar mereka di pintu keluar jadi buktinya. Foto oleh Tri Harimurti