Dick Tamimi: mengudara di angkasa dan di telinga

15-09-2016 05:09:08 By Yehezkiel Sihombing
img

Jika kamu pernah mencoba untuk menggali lebih dalam sejarah musik Indonesia, besar kemungkinan kamu akan menemukan nama Mohammad Sidik Tamimi, atau yang lebih dikenal dengan Dick Tamimi. Pria kelahiran Kerawang ,13 Februari 1922 ini adalah bagian dari majunya seni suara nusantara era mula-mula. Namun sebelum bicara mengenai kiprahnya pada disiplin musik, ada baiknya mundur dahulu beberapa langkah ke belakang, karena yang juga menjadikan Dick Tamimi pantas dipandang sebagai sosok yang menarik adalah manuver-manuver perannya. Bermula dari sebuah radio elektronik yang ada di rumahnya. Benda tersebut telah menimbulkan ketertarikan mendalam di hati Dick Tamimi, yang akhirnya menjadikan aktifitas mengutak-atik radio sebagai kegemarannya. Buah termanis yang ia dapatkan dari hal tersebut adalah diterimanya Dick Tamimi di Technische Hoogeschool Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) jurusan elektro. Namun disayangkan, bukannya fokus perihal studi, Dick Tamimi dan rekan-rekan mahasiswa Bandung lainnya justru harus menghadapi hambatan dari tentara Jepang. Tepatnya ketika rombongan Nippon datang di tahun 1942 dan membubarkan berbagai gerakan mahasiswa, lalu memaksa mereka untuk tergabung dalam gerakan fasisme seperti Seinendan-Keibondan (Barisan Pelopor) dan Pembela Tanah Air (PETA). Dick Tamimi lantas memberhentikan usaha perampungan pendidikannya. Ia kembali ke Jakarta membuka tempat reparasi radio bernama “Reparasi Toendjoek” di daerah bilangan Menteng Raya. Sampai akhirnya kemerdekaan Indonesia tiba, dan menjadi perubahan besar bagi hidup Dick Tamimi.

Dari Dirgantara

Tepatnya adalah ketika ia bergabung dengan Batalyon Perhubungan (PHB) Siliwangi di Resimen IV Tangerang, dibawah pimpinan Letkol Singgih dengan pangkat Letnan Dua. Yang lalu membawanya bergabung dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) untuk ditempatkan di wilayah Sumatera, dibawah pimpinan Komandan Udara Halim Perdana Kusuma. Bersama Halim Perdana Kusuma, Dick Tamimi mendapat tugas untuk membeli sebuah pesawat pertama bagi Republik Indonesia di Songklha, Thailand. Namun nasib malang menimpa, mereka diusir dengan tuduhan penyelundupan. Dick Tamimi beserta para anggota melarikan diri lewat jalan darat melewati Penang-Singapura-Bukittinggi. Sedangkan pesawat dilarikan oleh Halim Perdana Kusuma dan Iswahyudi. Dan pada saat itulah tragedi jatuhnya pesawat Halim Perdana Kusuma di Pantai Selat Malaka, dekat Tanjung Hantu, Malaysia terjadi. [caption id="attachment_14732" align="aligncenter" width="408"]Foto figur Dick Tamimi saat bergabung dengan Angkatan Udara RI - Sumber: komunitasaleut.com Foto figur Dick Tamimi saat bergabung dengan Angkatan Udara RI - Sumber: komunitasaleut.com[/caption]   Dick menyudahi keterlibatannya di AURI pada tahun 1953, ketika mengenakan jabatan Kepala Jawatan Perawatan Radio di Andir. Sebelumnya ia juga  mendapat wing penerbang militernya pada tahun 1950. Dick Tamimi yang karib dengan Komodor Udara Suyoso Karsono mencoba membuka usaha suplai suku cadang pesawat terbang di masa pensiunnya, namun usahanya tersebut gulung tikar.

Ke Seni Suara

Kedekatan Dick Tamimi dengan Suyoso Karsono, atau yang biasa dipanggil Mas Yos, pemilik label rekaman Irama Records berbuahkan ketertarikan terhadap sound engineering. Di sana akhirnya Dick Tamimi mengembangkan kemampuannya di industri seni suara. Dick Tamimi lalu membuka perusahaan rekamannya sendiri. Dengan nama Mesra records dan Melody records, Dick memproduksi banyak album-album musik yang kini bernilai sejarah tinggi. Sebut saja album-album milik Koes Bersaudara. Selepas mendekam dari penjara dengan tuduhan ‘antek nekolim’ akibat membawakan lagu-lagu The Beatles, tidak ada satupun label musik yang berani menawarkan kesempatan rekaman bagi Koes Bersaudara. Hanya Dick Tamimi, yang dibawah nama Mesra Records berani menawarkan kontrak pada unit rock berstatus residivis tersebut. Dengan bantuan Dick Tamimi, Koes Bersaudara akhirnya dapat dengan lepas meneriakan protesnya lewat album “To the So Called the Guilties” [embed]https://www.youtube.com/watch?v=8l43nyeWM8E[/embed] Selain Koes Bersaudara yang berubah nama menjadi Koes Plus, Dick Tamimi juga merupakan figure dibalik kesuksesan bintang-bintang musik Indonesia lainnya, seperti Panbers, Dara Puspita, Diselina, Medenasz, The Brims, Paramour, Man’s Group, Diah Iskandar, Ernie Djohan, Elly Kasim, Sandra Sanger, Rossy hingga Benjamin Sueb. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=hB5xxHMZrP0[/embed] Kegagahan Dick Tamimi di industri musik bertahan sampai tahun 1974. Tepatnya ketika maraknya rekaman-rekaman bajakan yang membuatnya menjadi sangat kecewa dan menututup Mesra Records. Ia kembali lagi mengudara dengan pesawatnya, hingga pada 16 Februari 1978, pesawat yang dikemudikannya jatuh di Padamaran, Ogan Komering Ulu, Palembang. Nama Dick Tamimi mungkin asing terdengar bagi kebanyakan orang. Namun kisah perjuangannya bagi Indonesia ada dimana-mana. Mengudara di angkasa dan di telinga. Sumber: https://komunitasaleut.com http://reviewmusik.com/ pusatdatakoesbersaudaraplus.wordpress.com