Permainan Permainan Tradisional yang Akan Membawamu Bernostalgia

15-09-2016 05:09:34 By Rasyid Hadi
img

Masa kecil atau masa kanak-kanak bisa jadi masa paling indah dalam hidup manusia. Hidup bebas, tidak banyak memikirkan polemik kehidupan dewasa, tidak pusing tentang persaingan, dan juga tidak dirumitkan dengan cara mendapatkan penghasilan. Banyak kejadian dan hal lucu yang tak bisa dilupakan, meski dengan cara-cara yang sederhana. Perkembangan zaman berjalan lurus dengan perkembangan tekhnologi. Dahulu, anak-anak bermain dengan menggunakan alat yang seadanya. Namun di zaman moderen kini, mereka sudah bermain dengan permainan-permainan berbasis teknologi. Permainan tradisional perlahanlahan mulai terlupakan oleh anak-anak Indonesia. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sama sekali belum mengenal macam permainan tradisional. Selain tersisih oleh tehnologi, faktor lahan yang kian menyempit pada kota kota besar juga menjadi faktor yang cukup berpengaruh terhadap eksistensi permainan tradisional. Banyaknya lapangan atau lahan kosong menjadikan tempat kumpul anak anak di sore hari sudah sangat jarang ditemui. Ada beberapa hal positif yang jarang di dapat anak-anak di era modern kali ini. Hampir semua permainan tradisional dimainkan dengan gerak badan ekstra dan langsung, sehingga secara tidak langsung anak anak juga ikut berolahraga dalam ceria. Dan permainan tradisional juga dapat melatih kemampuan sosial para pemainnya, karena peserta permaiannya bertemu dan berinteraksi secara langsung. Secara tidak sadar, anak akan dirangsang kreatifitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan, dan keluasan wawasannya melalui permainan tradisional. Berikut adalah permainan permainan tradisional yang akan membawamu kedalam nostalgia, yaitu:

Ular Naga

[caption id="attachment_14717" align="aligncenter" width="1000"]ularnaga image via halonusantara.com[/caption] Ular Naga adalah satu permainan berkelompok yang biasa dimainkan di luar rumah pada waktu sore hari. Tempat bermainnya di tanah lapang atau halaman rumah yang agak luas. Pemainnya biasanya sekitar 5-10 orang, bisa juga lebih. Cara bermainnya adalah, ada dua anak yang menjadi penjaga atau gerbang, keduanya berdiri saling berhadapan sambil menyatukan kedua tangan setinggi mungkin, mereka sebagai pintu masuknya naga yang diperankan oleh induk naga beserta anggotanya. Sedangkan anak anak yang lainnya berbaris dan saling memegang baju teman di depannya untuk menjadi seekor naga. Kemudian barisan naga tersebut mengitari penjaga atau bisa disebut juga dengan gerbang masuk naga sambil menyanyikan lagu. Tentu lagu ular naga sangatlah familiar di teling kita yang pernah memainkannya. “Ular Naga Panjangnya bukan kepalang, Menjalar-jalar selalu kian kemari, Umpan yang lezat itulah yang dicari, Ini dianya yang terbelakang.”, Pada saat lagu tengah dinyanyikan, maka masuklah naga ke dalam gerbang. Dan anak yang paling terbelakang akan ditangkap oleh gerbang. Penyanderaan anggota akan terus terjadi sampai sang induk kehabisan anggota. Dan kemudian permainan akan diulangi membentuk ular naga baru.

Congklak

[caption id="attachment_14719" align="aligncenter" width="1000"]img_0065 image via http://play-with-traditional.blogspot.co.id/[/caption] Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu dan plastik, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain. Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya berlawanan arah jarum jam. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bila habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. Bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa. Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

Lompat Karet

[caption id="attachment_14718" align="aligncenter" width="1000"]maxresdefault image via http://1080.plus/amMC86AFAIQ.video[/caption] Seperti namanya, permainan ini dilakukan dengan bantuan gelang karet yang telah dirangkai sedimikian rupa sehingga membentuk tali yang panjang. Setelah rangkaian gelang karet itu jadi panjang, maka permainan siap dilakukan. Lompat karet Jika hanya bermain seorang diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang, batang pohon atau pada apa pun yang memungkinkan, lalu melompatinya. Permainan secara soliter bisa juga dengan cara skipping, yaitu memegang kedua ujung tali kemudian mengayunkannya melewati kepala dan kaki sambil melompatinya. Jika bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal 3 anak. Aturan permainannya cukup mudah, bagi anak yang sedang mendapat giliran melompat, lalu gagal melompati tali karet, maka anak tersebut akan berganti dari posisi pelompat menjadi pemegang tali. Selain menyenangkan, permainan ini tak banyak memakan waktu, murah, dan menyehatkan. Jadi cocok untuk mengisi waktu senggang anak-anak.

Engklek

[caption id="attachment_14721" align="aligncenter" width="1000"]dscf0914 image via http://rainyasaches.com[/caption] Engklek adalah suatu permainan tradisional lompat-lompatan pada bidang datar yang telah diberi garis pola kotak-kotak, kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak satu ke kotak berikutnya. Sebutan engklek sendiri berasal dari bahasa Jawa, dan di beberapa daerah namanya juga bermacam-macam seperti teklek, ingkling, ciplak gunung, sundamanda / sundah-mandah, jlong jling, lempeng, dampu, gedrik, dan gejring. Biasanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak perempuan, namun tak jarang juga anak laki-lakipun turut serta bermain. Mereka biasa memainkannya di pekarangan rumah, kebun, atau di tanah kosong. Engklek merupakan sebuah permainan dengan cara melemparkan pecahanan genteng berukuran + 5 x 5 Cm yang disebut "patah" atau "Bite' ". Permainan ini mengajarkan usaha anak untuk membangun “rumah”-nya. Atau bisa pula bermakna sebagai perjuangan manusia dalam meraih wilayah kekuasaannya. Namun bukan dengan saling sruduk. Ada aturan tertentu yang harus disepakati untuk mendapatkan tempat berpinjak. Engklek dapat dimainkan di lapangan, halaman, jalanan atau bahkan teras rumah, yang penting luas lahan tidak kurang dari 3 x 4 meter. Pada lahan itu kemudian  dibuat  kotak-kotak  dan  lingkaran.  Masing-masing  kotak  umumnya berukuran + 30 x 60 Cm, sementara panjang jari-jari lingkaran + 1 meter. Kotak dan lingkaran tersebut dibuat dengan guratan kapur, arang atau guratan kayu di atas tanah.

Benteng

[caption id="attachment_14723" align="alignnone" width="1000"]bentengan image via colasula.com[/caption] Benteng atau biasa disebut juga Bentengan adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing-masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Masing-masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang atau pilar sebagai 'benteng'. Permainan ini membutuhkan ketangkasan, kecepatan berlari dan strategi yang handal. Hal ini disebabkan setiap pemain harus berlari untuk menjaga benteng dan menangkap lawan. Tujuan utama dari permainan benteng ini adalah menyerang dan mengambil alih 'benteng' lawan. Pemenangnya adalah kelompok yang dapat menyentuh tiang atau pilar lawan dan meneriakan kata 'benteng'.

Kelereng

[caption id="attachment_14720" align="aligncenter" width="1000"]gundu image via http://picture.triptrus.com[/caption] Permainan kelereng adalah permainan yang menggunakan bola kelereng. Di beberapa tempat disebut juga “gundu”. Permainan kelereng adalah salah satu permainan tradisional yang ada di kalangan anak anak dan pada zaman dulu begitu populer. Biasanya permainan ini dimainkan dengan cara disentil atau dimainkan di tanah. Jaman sekarang ini, permainan ini jarang sekali ditemukan. Waktu kecil, pasti kita ingat waktu sekolah pasti kita memainkan kelereng bersama teman kita. Sekarang permainan ini jarang ditemukan karena seiring perkembangan zaman, dan banyak ditemukan mainan mainan model terbaru yang menarik perhatian. Biasanya, permainan ini dimainkan di tanah dan disentil. Salah satu jenis permainan yang sangat populer adalah dengan bermain menggunakan lingkaran kecil yang digambar di atas tanah. Setiap pemain meletakkan gundu mereka kedalam lingkaran tersebut. Jumlah gundu yang diletakkan harus sama setiap pemainnya, bisa masing-masing 1 buah atau lebih, sesuai dengan kesepakatan. Lalu dibuat lagi 2 buah garis sejajar dimana salah satu garis tersebut dekat dengan lingkaran yang tadi. Kita namakan saja garis yang dekat dengan lingkaran sebagai garis A dan garis yang jauh dari lingkaran sebagai garis B. Dari garis A, masing-masing pemain melemparkan gundu mereka (bukan gundu yang didalam lingkaran) ke arah garis B. Gundu ini biasanya disebut dengan “gacok”. Siapa yang bisa memposisikan gacoknya paling dekat dengan garis B tanpa melewati garis tersebut, akan bermain lebih dahulu. Pemain yang memposisikan gundunya melewati garis B akan dianggap kalah.