Setan Jawa: Karya Bisu Nan Mistis dari Garin Nugroho

04-09-2016 10:09:23 By Rasyid Hadi
img

Merayakan 35 tahun berkarya di industri film, Garin Nugroho didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan karya berjudul ‘Setan Jawa’. Sebuah film bisu yang mengangkat mitologi Jawa dan menyesuaikannya dalam film tari kontemporer. Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih pertama karya Garin Nugroho yang diiringi dengan orkestra musik gamelan secara live yang dibuat oleh Rahayu Supanggah. [caption id="attachment_14508" align="alignnone" width="1500"]Rahayu Supanggah Rahayu Supanggah[/caption] Film bisu ini dikisahkan pada awal abad ke-20, selaras dengan waktu tumbuhnya film hitam putih sekaligus merebaknya fashion, sastra dan berbagai bentuk seni hiburan di puncak kolonialisme Belanda. Namun film ini bukanlah drama sejarah, hanya saja sejarah menjadi bingkai referensi dalam Setan Jawa. Era kolonial awal abad ke-20 adalah era pengembangan industrial disertai pengembangan infrastruktur pertumbuhan gerakan nasionalisme, dan juga identitas manusia Jawa yang terepresentasikan pada kehidupan sehari-hari, seni, bahasa dan juga mistik. Pada era ini, mistik Jawa tumbuh seiring tumbuhnya theosofi, sebuah gerakan religiusitas berbasis harmoni beragam perspektif kepercayaan. Dalam konteks ini, jalan pesugihan menjadi populer untuk meraih masa depan lebih baik sekaligus sebagai mobilitas sosial dalam dunia baru yang penuh tekanan.SETAN JAWA (4) Film ini menampilkan Asmara Abigail (Asih), Heru Purwanto (Setio) dan Luluk Ari (Setan Jawa), Quin Dorothea (Setan Padi & Ibu Asih), Anggono Wibowo (Setan Byayakan), Pak Kodok (Setan Tua), Bambang Mbesur (Setan Kemayu), Danang Pamungkas (Badut laki-laki), Cahwati Sugiarto (Badut perempuan), Muhammad Fathan Irsyad (Setan Jawa Kecil) dan Rusini (Nenek). Film berdurasi 70 menit ini juga berbeda dengan film horor Indonesia yang lain. Biasanya, film horor lebih banyak menampilkan aspek menyeramkan. Dalam Setan Jawa, Garin tidak mengeksplorasi ketakutan atau sesuatu yang menyeramkan. Ia lebih memilih menyuguhkan aspek estetika bagi para penonton.SETAN JAWA (1) Bercerita tentang kisah cinta dan tragedi kemanusiaan dengan latar waktu awal abad ke-20. Setio, seorang pemuda dari desa miskin jatuh cinta dengan Asih, seorang putri bangsawan Jawa. Lamaran yang ditolak membuat Setio mencari keberuntungan melalui kesepakatan dengan iblis yang dikenal sebagai ‘Pesugihan Kandang Bubrah’ untuk mencari kekayaan dan nantinya dapat melamar Asih. Setio akhirnya menjadi kaya dan kawin dengan Asih, mereka hidup bahagia dalam rumah Jawa yang megah.SETAN JAWA (3) Asih kemudian mengetahui bahwa suaminya menjalani laku pesugihan kandang bubrah. Asih yang sangat mencintai suaminya kemudian menemui setan pesugihan. Asih meminta pengampunan pada setan agar suaminya pada saat kematiannya tidak menjadi tiang penyangga rumah. Meski berupa film bisu, tidak akan membuat penonton Setan Jawa kebingungan. Karena, ada penjelasan mengenai cerita dalam setiap chapter film tersebut, sehingga memudahkan penonton untuk memahami jalan cerita. Pemutaran film Setan Jawa di Jakarta kemarin merupakan penampilan pertama sebelum diputar pada world premier di Opening Night of Asia Pacific Triennial of Performing Arts di Melbourne, Februari 2017.  Setan Jawa  ditampilkan kemarin, tanggal 3 & 4 September 2016 pukul 20.00 WIB di Gedung Teater Jakarta, Jl. Cikini Raya no. 73 Jakarta Pusat.