Setan Jawa: Buah Tangan Garin Nugroho Dalam 35 tahun Berkarya

24-08-2016 04:08:15 By Rasyid Hadi
img

Siapa yang tidak kenal Garin Nugroho? Seorang sutradara dan juga produser yang cukup populer di Indonesia. Film-film Garin sudah dikenal dengan penyajian sudut pandang yang berbeda terhadap suatu persoalan, selain itu karyanya selalu menarik dan selalu punya cerita untuk diperbincangkan. Pria yang lahir 55 tahun lalu, tepatnya 6 Juni 1961 di Jogjakarta, memulai karir di bidang perfilman sebagai seorang kritikus dan pembuat film dokumenter. Menempuh pendidikan film di Fakultas Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan selesai pada tahun 1985. Hingga saat ini setidaknya Garin sudah sukses dengan lebih dari 20 film yang sukses beliau garap, diantaranya Opera Jawa (2006), Leaf on a Pillow (1998) and Soegija (2012). Untuk merayakan 35 tahun berkarier pada industri perfilman nasional, kali ini Garin Nugroho ingin meluncurkan film bisu hitam putih yang mengangkat mitologi Jawa, yang berjudul “Setan Jawa”. Tidak hanya film bisu, "Setan Jawa" juga di iringi oleh lantunan Gamelan serta orkestra yang dibawakan oleh Rahayu Supanggah. Ini merupakan kolaborasi yang kembali diulang setelah 10 tahun lalu, Garin Nugraha dan Rahayu Supanggah pernah berkolaborasi bersama dalam proyek "Opera Jawa". Kolaborasi keduanya ini akan membungkus para penonton ke dalam suasana mistik dan klasik. Rahayu Supanggah, seorang seniman musik yang telah dan masih memperkenalkan dan mempopulerkan musik gamelan Jawa ke masyarakat dunia selama lebih dari 40 tahun, akan menampilkan sebuah orkestra gamelan yang akan mengiringi film bisu hitam putih karya Garin, dibawakan secara langsung dengan 20 pengrawit (pemusik gamelan). “Pertunjukan Setan Jawa mengangkat kisah mitologi Jawa yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Di dalam kisah-kisah mitologi daerah di Indonesia tersimpan nilai-nilai luhur serta ajaran moral yang berakar dari sejarah dan tradisi masyarakat. Mitologi mengandung kearifan lokal yang mampu membentuk pola perilaku masyarakat agar menghormati serta berbuat lebih baik terhadap sesuatu yang dianggap bernilai, suci dan sakral. Diharapkan film ini mendapat banyak apresiasi dari masyarakat Indonesia dan juga masyarakat luar dan semakin banyak sineas muda yang terinspirasi dan menghasilkan film yang tak kalah hebatnya," ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation. Dari sekian banyak karya Garin, film "Setan Jawa" merupakan konsep film bisu pertama yang Garin coba bawa dan tuangkan. "Tahun ini genap 35 tahun saya berkarya. Saya ingin membuat karya terobosan dan mengajak anak muda membuat terobosan baru di dunia film," kata Garin dalam konferensi pers di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Senin (22/8/2016). [embed]https://www.youtube.com/watch?v=SB-uStJa2t8[/embed] Garin terinspirasi membuat “Setan Jawa” dari film “Nosferatu”, sebuah kisah horor ekspresionis yang disutradarai Friedrich Wilhelm Murnau dan rilis di 1922. “Setan Jawa” bercerita tentang pesugihan. Film mengenai pesugihan dibuat karena Garin ingin menciptakan karya baru yang menantang dari segi artistik. "Setan Jawa" menjadi salah satu film yang kisahnya bernuansa angker dari sekian banyak film yang telah digarap Garin Nugroho. Namun Garin mengatakan, "Setan Jawa" bukan film bergenre horor seperti kebanyakan. "Di dalam film ini saya nggak mengambil mistis dan magic-nya. Tapi saya hanya mengambil seninya saja. Isu mistis dan magic realisme biasanya jadi film horor saja. Tidak pernah dieksplorasi dari segi tari, musik, akting, sastra. Langka sekali seperti itu. Tapi film saya tidak memberikan film yang menjadi tontonan yang menakutkan,” ujarnya. “Setan Jawa dikisahkan dalam bingkai sejarah periode awal abad ke-20 sebagai konsep waktu yang menarik untuk dieksplorasi. Memungkinkan ekspresi film ini bergerak antara tradisi dan kontemporer dan dalam beragam silang disiplin dan budaya. Film ini menyatukan perspektif kontemporer dengan tari tradisi, musik, hingga fashion dalam ruang bebas intrepretasi,” ungkap Garin Nugroho, Produser dan Sutradara Setan Jawa. Film tersebut digarap Garin lewat kerjasamanya dengan lembaga seni asal Australia, Art Centre Melbourne, dan akan ditayangkan perdana di Opening Night of Asia Pacific Triennial of Performing Arts di Melbourne, Australia, pada Februari 2017. Sebelum dipertontonkan di Australia, Setan Jawa akan diputar di Gedung Teater Jakarta , Cikini, pada 3-4 September 2016. Info selengkapnya bisa dilihat di sini