Suicide Squad: Pantaskah Jadi Yang Paling Ditunggu?

11-08-2016 01:08:03 By Yehezkiel Sihombing
img

Lumrah adanya jika banyak orang menuliskan Suicide Squad ke dalam daftar film paling ditunggu tahun ini. Trailernya yang menggugah dan mengundang rasa penasaran sudah dipublikasikan dari tahun lalu. Disusul dengan tiga trailer lanjutan yang kian mengokohkan posisinya sebagai film superhero yang berbeda. Para villain menjadi tokoh utama. Ulah mereka urakan dan penuh amarah. Pada latarnya diputar lagu-lagu yang mencatat sejarah. Dari Bohemian Rhapsody milik Queen, sampai Ballroom Blitz yang dinyanyikan oleh grup musik Sweet. Jared Leto, peraih Oscar, jadi sang Joker. Tersebar berita kalau pada tahap audisi ia memilih untuk tidak hadir dan justu mengirimkan kepala babi kepada pihak studio. Akan seperti apa lagi gilanya peran musuh terbesar batman dalam versi yang satu ini? Rasa tidak sabar dipupuk semakin subur. Bisa dipastikan kalau tiket habis ludes di penanyangan pertama, tepatnya 3 Agustus 2016. Tetapi, tidak sepadan dengan ekspektasi. Suicide Squad dianggap mengecewakan bagi banyak DC fans. Secara keseluruhan, filmnya tidak asik untuk ditonton. Biasa saja. Tidak ada aspek mengejutkan. Dan hal itu terjadi bukan banyaknya frame yang terlanjur bocor dari rangkaian trailernya, tapi karena plot serta karakter-karakter yang tidak dalam digarap. Semakin lama ditonton, semakin banyak pula pertanyaan-pertanyaan yang mengernyitkan dahi. Dari segi cerita, latar belakang dibentuknya Suicide Squad seperti tidak jelas. Terbukti kalau pada akhirnya mereka justru berhadapan dengan musuh utama yang tidak terduga kemunculannya (Enchantress). Yang paling mengganggu adalah para karakternya. Suicide Squad seperti dipaksa menjadi anti-hero yang berlebihan. Suam-suam kuku, tidak teratur. Melihat masa lalunya, mereka bukanlah karakter yang jahat, tapi juga bukan karakter yang baik. Terbukti dari tingkah mereka yang (sesekali) brutal. Pada film ini seolah-olah hasrat mereka dalam menjadi jahat dan baik harus tampil seimbang. Karakter Joker yang diperkirakan akan menjadi asset besar dalam karya ini juga tidak tampil begitu gemilang. Kemunculannya yang hanya sedikit membuat penonton tidak sempat menangkap citra joker dalam versi yang satu ini. Dan jika hanya menyimpulkan dari apa yang ditayangkan, Joker inilah yang paling cemen. Hanya seperti petinggi kelompok mafia yang suka berdandan nyentrik dan sengat mencintai kekasihnya. Namun setidaknya masih ada beberapa hal menarik yang bisa disaksikan dalam film Suicide Squad. Seperti lakon Margot Robbie yang centil sekaligus ganas sebagai Harley Quinn dan Jai Courtney sebagai Captain Boomerang. Serta kemunculan Ben Affleck sebagai Batman yang menumpas Deadshot dan Harley Quinn. Ini adalah satu lagi produk gagal atas nama DC Comics. Mungkinkah umpatan kasar David Ayer terhadap pesaingnya, Marvel, merupakan luapan emosi karena tak dapat menandinginya?