Doea Tanda Tjinta: Sandiwara Berbalut Keroncong Modern

31-07-2016 09:07:18 By Marcha Nurliana
img

Setelah 19 kali sukses dengan pertunjukan pentas teater, Indonesia Kita kembali menggelar pentas seni teaternya yang ke-20. Kali ini, pementasan teater tersebut bertajuk “Doea Tanda Tjinta” dan diprakasai oleh Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djajuk Ferianto. Pentas seni kali ini mengambil kisah yang berlatar belakang zaman kolonial Hindia Belanda dengan konflik-konflik yang melandai kehidupan masyarakat di kala itu. Lakon ini adalah kisah seorang pemuda keturunan Belanda yang menjadi mata-mata dan mencoba memengaruhi para pemuda untuk terus mendukung pemerintahan Hindia Belanda di masa itu. JV_INDONESIA KITA Sebuah kisah mengenai cerita cinta seorang anak Nyai yang berusaha memertahankan prinsipnya untuk membela kemerdekaan Indonesia walau dirinya nyaris akan mendapat warisan dari ayahnya juga terpaparkan melalui panggung teater “Doea Tanda Tjinta”. Cerita cinta dan pemikiran mengenai kemerdekaan dibaurkan menjadi dua alur yang pararel, saling berkaitan, dan ternyata memiliki kejutan makna di akhir ceritanya. Lantunan musik keroncong modern turut mengiringi beberapa adegan dari panggung “Doea Tanda Tjinta”. Senda gurau dan aksi dari nama-nama seniman panggung seperti Endah Laras, Merlyn Sopjan, Olga Lidya, Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Susilo Nugroho, dan Trio Gam sukses membuat para penonton yang memenuhi Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki itu bersahut-sahutan mengeluarkan gelakan tawa. Kesuksesan lakon “Doea Tanda Tjinda” bisa dilihat dari tiket yang terjual habis selama dua hari pertunjukan seni diadakan, yaitu Jumat (29/7) dan Sabtu (30/7). Di penutup acara, sang produser Butet Kertaredjasa menyampaikan pesan inspiratif kepada ratusan penonton yang datang.

Jangan bosan-bosan menjadi Indonesia.