3 Srikandi: Membidik kisah para pemecah sejarah

29-07-2016 05:07:52 By Yehezkiel Sihombing
img

Merupakan hal yang sangat lumrah jika sejarah yang memecah rekor menarik untuk diangkat ke dalam sebuah presentasi visual berbasis layar lebar. Begitupun dengan sejarah medali pertama bagi Indonesia dalam kompetisi olahraga antar cabang paling bergengsi di dunia, olimpiade. Yang didokumentasikan dalam film berjudul “3 Srikandi.” Prestasi tersebut diukir oleh Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, dan Kusuma Wardhani dalam cabang olahraga panahan beregu putri. Pencapaian gemilang yang mereka raih juga tak lepas dari kelihaian Donald Pandiangan, sang legenda Robin Hood Indonesia sebagai pelatihnya. Lakon grup pemanah putri itu diperankan oleh Bunga Citra Lestari (Nurfitriyana), Tara Basro (Kusuma), dan Chelsea Islan (Lilies). Sedangkan peran Donald Pandiangan jadi tugas bagi aktor muda nomor wahid Indonesia saat ini, Reza Rahadian. Kisahnya diangkat dari momentum bersejarah. Pemerannya aktor-aktris ternama. Sungguh satu formula yang cukp menggambarkan akan seperti apa besarnya film ini. Akan sebanyak apa pula yang menontonnya. Namun pantas atau tidaknya hanya bisa dijawab oleh kontennya. Karya debut sutradara Iman Brotoseno ini disebutkan olehnya berisi 70% kisah nyata dan 30% hal fiktif yang bersifat sebagai ‘bumbu’. Persentase tersebut sebetulnya tidak mudah untuk dibuktikan. Mengingat kisah suksesnya ketiga srikandi tidak banyak diketahui oleh banyak orang. Apalagi jika sudah menyangkut kehidupan pribadinya. Dikisahkan bahwa para pemanah wanita memiliki permasalahan pribadi yang berpotensi jadi peruntuh harapan untuk meraih kemenangan di Olimpiade Seoul 1988. Seperti Nufitriyana yang tidak pernah dapat restu sang Bapak untuk menjadi atlet panahan. Atau Lilies, yang lahir dari keluarga atlet namun tidak bisa merayakan cintanya dengan sang kekasih secara terbuka didepan Orangtuanya. Serta Kusuma, yang ditengah himpitan ekonomi harus memilih untuk focus dengan panahan, atau menjadi Pegawai Negeri Sipil. Jika ujung kisah yang dipapakan dalam “3 Srikandi” sudah diketahui, lalu apa yang menjadi perhatian utama penonton saat menonton filmya? Kalau jawabannya adalah alur cerita, maka jempol rasanya tidak bisa diacungkan bagi “3 Srikandi”. Adegan-adegannya terlihat seperti menghindari pemaparan mendetail mengenai teknis olahraga panahan, yang sebetulnya bisa sangat dinikmati ketegangannya. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=-sfuXpBIsCA[/embed] Seperti bidikan anak panah yang tidak fokus. Film ini justru terlalu banyak membahas masalah para tokoh-tokohnya. Entah hal itu merupakan bagian dari 70% fakta atau 30% fiksi. Yang pasti elegi para tokohnya sering kali terasa tidak begitu penting. Banyak fase di dalam kisah ini yang seharusnya lebih penting untuk diceritakan. Sepertibagaimana pengumuman hasil proses seleksi yang akhirnya menunjuk Yana, Suma dan Lilies sebagai yang terpilih jadi kontingen panahan di Olimpiade Seoul 1988. Namun “3 Srikandi” juga tak lantas tidak layak dipuji. Acting ketiga pemanahnya sangat matang dan juga berbaur satu sama lain dengan sangat baik. Cerita jenaka mereka saat dalam proses pelatihan juga disajikan dengan sangat jenaka. Mengingat sang pelatih, Donald Pandiangan, yang diperankan oleh Reza Rahadian, adalah tokoh yang sangat keras. Secara keseluruhan, film ini terbilang sukses dalam mendokumentasikan kisah kesuksesan Indonesia di bidang olahraga dengan menarik. Tidak sekedar bermodalkan nama aktris dan aktor besar Indonesia.