Doea Tanda Tjinta : Musik Keroncong Untuk Indonesia

18-07-2016 10:07:42 By Yehezkiel Sihombing
img

Siapa tidak kenal music keroncong? Musik tradisional Jawa yang popular secara mendunia. Dan juga jenis musik yang dianggap sebagai cikal bakal musik pop Indonesia. Jika berbicara mengenai bagaimana seni budaya berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia, pastilah tidak terlepas dari pengaruh musik keroncong. Hal itulah yang mendasari dipentaskannya sebuah pertunjukan teater berjudul Doe Tanda TJinta, oleh Indonesia Kita. Pentas Indonesia Kita ke-20 ini akan mengolah lagu-lagu keroncong yang merupakan warisan budaya yang semakin berkembang dengan gagasan-gagasan baru. Pentas ini tentu saja akan melibatkan para seniman keroncong. Yang muda dan yang tua akan berkolaborasi, sehingga “musikal keroncong” ini akan semakin menarik dan kaya dengan unsur-unsur perpaduan genre musik lainnya, seperti blues, rock sampai musik etnik. Kita mengenal “keroncong rock”, “keroncong tugu”, “keroncong humor” dan lain-lain. Itu memperlihatkan musik keroncong mampu menjadi medium untuk mengekspresikan banyak gagasan kreatif. Dan memadukan keroncong dengan bentuk kesenian lainnya ke panggung pementasan, merupakan tantangan tersendiri di dalam program Indonesia Kita kali ini. Lakon Doea Tanda Tjinta Lakon Doea Tanda Tjinta merupakan cerita berlatar zaman pergerakan kemerdekaan. Ketika gagasan tentang Indonesia merdeka menjadi ancaman bagi pemerintahan Hindia Belanda. Bagaimana para pemuda-pelajar pada saat itu mulai menyemai benih pemikiran tentang kemerdekaan, dan bagaimana persoalan-persoalan yang mereka hadapi, akan menjadi tema cerita dalam lakon ini. Lakon ini adalah kisah seorang pemuda keturunan Belanda yang menjadi mata-mata dan mencoba mempengaruhi para pemuda, membujuk mereka agar terus mendukung pemerintahan Hindia Belanda. Lakon ini juga bercerita tentang kisah cinta seorang anak Nyai, yang berusaha mempertahankan keyakinan dan prinsipnya untuk lebih mendukung pergerakan Indonesia merdeka.  Ketimbang Ia harus menerima warisan papanya yang menetapkan syarat  memilih menjadi warga Hindia Belanda. Antara cinta dan pergolakan pemikiran serta gagasan tentang kemerdekaan itu, menjadi dua alur yang paralel, saling berkaitan, dan akan menjadi sebuah kejutan di akhir kisah, ketika  sebuah jam yang merupakan warisan anak Nyai itu mengungkap kisah sebenarnya. Melalui lakon “Doea Tanda Tjinta” ini, pentas INDONESIA KITA ingin mengingatkankan kembali semangat cinta-cita menjadi Indonesia, dimana perbedaan dan bermacam pertentangan pada akhirnya bisa diatasi oleh semangat kelahiran sebuah bangsa yang merdeka. Dengan lakon ini, INDONESIA KITA ingin mengingatkan kembali semangat Indonesia yang plural, yang toleran dan menghargai perbedaan. Sebuah semangat yang menjadi sangat relevan ketika kita akan kembali merayakan kemerdekaan. Penasaran dengan pertunjukan arahan Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto ini? Kamu bisa menyaksikannya pada tanggal 29 & 30 Juli 2016, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Jangan lewatkan permainan peran dari Olga Lydia, Cak Lontong, Endah Laras, dan masih banyak lagi! Pentas Doea Tjinta juga akan diiringi oleh pertunjukan musik oleh Sinten Remen. Untuk informasi selengkapnya, bisa kamu cek di sini.Flyer 21x14.8 cm v2